Direktur Jaringan Moderat Indonesia: Tindakan Persekusi Terhadap Agama Lain adalah Bentuk Penghianatan!

Logo Jaringan Moderat Indonesia

Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan persekusi terhadap agama lain apalagi terhadap orang yang sedang menghadap Tuhan yang diyakininya, adalah pengkhianatan terhadap agama yang dipeluknya.

Hal ini ditegaskan Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi merespons tindakan perundungan sekelompok orang terhadap rumah doa Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Anugerah Padang.

“Agama tidak pernah meminta umatnya melakukan pembinasaan atau proses-proses kebencian terhadap orang lain yang berbeda keyakinan,” jelas Islah Bahrawi dalam tayangan monolognya di Posdcat Terus Terang Media, (30/7/2025).


Menurut Islah, perundungan terhadap orang yang berbeda keyakinan selalu berulang dalam rentetan sejarah umat manusia. Penyerbuan dan persekusi terhadap pemeluk agama lain, terutama terhadap rumah ibadah menjadi catatan panjang kasus intoleransi agama.

“Kejadian kemarin yang terjadi di Padang, rumah doa dari umat beragama lain diserbu dan bahkan korbannya sampai mengalami luka-luka. Mengapa ini terus terjadi? karena satu hal, orang-orang tidak pernah menggunakan akal sehatnya dalam memeluk agama, mereka salah menerjemahkan agama,” tambah Islah.

Setiap pemeluk agama, lanjut Islah, diberi tugas agamanya masing-masing untuk menyebarkan agamanya dengan cinta dan kasih sayang.

“Hanya dengan bahasa kasih sayang kemudian tujuan-tujuan universal itu bisa menjadi daya tarik kepada orang lain untuk memeluk agama. Kalau kemudian dengan cara-cara kekerasan dan persekusi siapa yang akan tertarik dengan agama saya?” papar Islah.

Lebih lanjut Islah menjelaskan, agama yang dipeluk dan diyakini oleh seseorang adalah berdasarkan takdir-takdir kelahiran manusia.

“Saya menjadi Islam kerena ditakdirkan oleh Tuhan lahir di Madura dari orang tua beragama Islam, maka Islam lah saya. Kalau saya ditakdirkan oleh Tuhan lahir di belahan dunia yang lain dari orang tua yang beragama lain mungkin saya tidak beragama Islam, sementara kelahiran saya bukan pilihan saya,” tegas Islah.

Menurut Islah, semua manusia apapun agamanya diciptakan oleh Tuhan yang sama, lalu untuk apa membenci pemeluk agama lain?

“Apakah harus kita gelisah dengan keimanan orang lain yang berbeda? Kalau kita gelisah oleh berbagai perbedaan, maka seharusnya kita gelisah dengan diri kita sendiri. Jadi perbedaan itu adalah keniscayaan yang dialami oleh umat manusia. Untuk apa harus mempersekusi pemeluk agama lain?” pungkas Islah. (JIR01)

Temukan kami di Google News.