Analis: Monolog Jadi Bentuk Protes Wapres Gibran ke Presiden Prabowo

Potongan video Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, saat tampil memberikan monolog di YouTube Gibran TV, Jumat (25/04/2025).
Potongan video Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, saat tampil memberikan monolog di YouTube Gibran TV, Jumat (25/04/2025).

Analis politik, Hendri Satrio, menganalisa alasan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, kerap menyampaikan monolog lewat akun YouTube-nya beberapa waktu terakhir. Ia menilai, monolog dipilih sebagai bentuk protes kepada Presiden Prabowo Subianto yang mungkin sangat sulit diajak berdialog.

“Saya monolog saja, syukur-syukur didengarkan. Jadi, dia berusaha untuk berdialog dengan Presiden, tapi caranya dia bermonolog, itu bentuk komunikasi dia. Kedua, dia berusaha menyampaikan unek-unek karena tidak diajak berdialog,” kata Hensa dalam Sate Demokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (30/04/2025).

Terkait itu, Hendri merasa wajar jika Wapres Gibran mungkin kesulitan untuk berdialog dengan Presiden Prabowo mengingat ada lapisan-lapisan yang membuat tidak semua orang mudah memasuki lingkaran RI 1. Maka itu, Wapres Gibran memilih monolog melalui media sosial, tepatnya akun YouTube-nya sendiri.

Hensa turut menduga, Wapres Gibran memang sedang berusaha naik level demi menunjukkan kalau dia merupakan orang yang memiliki kemampuan. Ia merasa, keinginan ini yang membuat monolog berisikan hal-hal yang sulit seperti demografi, hilirisasi, yang semua itu untuk menunjukkan dia memiliki kualitas.

Namun, Hendri berpendapat, seharusnya citra-citra seperti itu tidak dipaksakan mengingat ini sudah tiga konten monolog dikeluarkan Wapres Gibran. Ia mengingatkan, bukan itu keahlian yang selama ini selalu dipilih untuk dilakukan putra mantan presiden Joko Widodo itu dalam rangka menyenangkan masyarakat.

Meski begitu, Hendri mengaku cukup paham jika Wapres Gibran akhir-akhir ini ingin menampilkan citra sebagai sosok yang memiliki kualitas. Terlebih, monolog-monolog itu dikeluarkan ketika semakin banyak saran-saran memakzulkan dirinya disampaikan masyarakat, termasuk dari ratusan purnawirawan TNI.

“Jadi, dia berusaha sekali, eh jangan gitu dong, I have the quality loh, makanya dia bicara tentang bonus demografi, dia bicara tentang hilirisasi, yang paling enak dia bicara timnas, di tengah-tengah,” ujar Hendri.

Hendri menyarankan, jika langkah ini ingin terus dilakukan, Wapres Gibran harus hati-hati dalam memilih tema agar sesuai dengan dirinya. Ia menilai, menyampaikan monolog tentang tema-tema yang sangat jauh dari dirinya malah akan menjadi senjata makan tuan karena bisa kembali jadi bulan-bulanan warganet.

Bagi Hendri, orang-orang di belakang Wapres Gibran seharusnya memperhatikan situasi ini, bukan malah memaksakannya tampil menghadirkan topik-topik berat seperti demografi dan hilirisasi. Terlebih, Hendri melihat, sebenarnya demografi maupun hilirisasi bukan pula topik yang mudah dipahami masyarakat luas.

“Ini ibaratnya, ini mohon maaf kalau saya contohnya kurang pantas, ibaratnya doctor umum tapi bicara tentang operasi saraf, kan belum waktunya dia bicara begitu, ini spesialis, harus sekolah lagi sekolah lagi,” kata Hendri.

Menurut Hendri, sosok seperti Wapres Gibran dipaksakan membicarakan demografi dan hilirisasi malah tidak menambah nilai bagi dirinya. Meski begitu, pendiri lembaga diskusi bernama Kedaikopi ini mengaku tetap memberikan apresiasi kepada Wapres Gibran yang tampak sekali berusaha menampilkan kualitas.

“Tapi sekali lagi saya mengapresiasi usaha-usaha dia untuk scaling up dia punya citra bahwa gue tuh aslinya bisa dibikin pintar juga,” ujar Hendri. (*)

Temukan kami di Google News.