Jelang 100 Hari, Presiden Prabowo Dinilai Masih ‘Omon-Omon’

Peneliti politik dan kebijakan publik dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad menilai, Presiden Prabowo sampai saat ini masih belum dapat membuktikan begitu banyak janji-janji. Bahkan, melihat latar belakang Prabowo, apa yang dilakukannya sebagai RI 1 masih jauh dari harapan.

“Saya kira itu, masih omon-omon, mungkin juga janji-janjinya terlalu besar, retorikanya terlalu besar, sehingga apa yang terjadi itu bisa agak jauh dari harapan. Saya juga berharap bahwa Pak Prabowo ini kan dari kecil di luar (negeri), tahu peradaban maju seperti apa, merasakan, tapi kalau kita lihat dari apa yang dilakukan agak berbeda,” kata Saidiman dalam acara Pojok Keramat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (26/12/2024).

Antara lain, lanjut Saidiman, soal pemilihan kepala daerah yang Prabowo usulkan kembali dipilih DPRD. Saidiman melihat, pernyataan-pernyataan Prabowo terkait Pilkada itu tidak menunjukkan orang yang pernah hidup di negara-negara demokrasi beradab, yang pemimpin-pemimpinnya bisa berargumen.

Contoh lain, ketika Presiden Prabowo menggunakan isilah ‘main saham’ yang tentu saja sudah keliru karena orang berinvestasi, bukan main-main. Saidiman menyayangkan, apa yang dibicarakan Presiden Prabowo sejauh ini masih belum memperlihatkan sosok yang dibesarkan oleh peradaban yang maju.

Padahal, ia menekankan, Presiden Prabowo sudah memulai cukup baik ketika ada polemik putusan MK menurunkan ambang batas Pilkada dan partai politik melakukan konsolidasi untuk melawan putusan itu. Dari peristiwa itu, Saidiman berharap, Presiden Prabowo bisa terus mendengarkan keinginan publik.

“Saya berharap Pak Prabowo lebih bisa mendengarkan suara publik, hal yang menurut saya agak kurang dari Pak Jokowi. Pak Jokowi ini kalau dia sudah punya pandangan, suara public bagaimanapun tidak peduli, dia akan terus dengan pandangan itu, melemahkan KPK terus walau dia bisa berjanji. Dulu Pak SBY sedikit banyak bisa memperhatikan publik, walaupun dia punya aspirasi politik tertentu,” ujar Saidiman.

Cendekiawan, Hamid Basyaib menuturkan, banyak masyarakat Indonesia yang pada Pilpres 2024 kemarin tidak memilih pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Tapi, ia mengingatkan, masyarakat kita sudah mencoba berpegang teguh pada asas demokrasi fundamental dan menerima pilihan mayoritas.

Sebab, ia menegaskan, demokrasi itu tidak hanya berani menikmati kemenangan, tapi berani menerima kekalahan. Namun, Hamid menyampaikan, sebagai masyarakat demokrasi sudah seharusnya kita semua menerima dan mematuhi seorang Prabowo sebagai Presiden RI, sekalipun tetap ada catatan soal Gibran.

“Faktanya, yang terpilih Pak Prabowo, kita ikuti, kita tunduk, jangan melawan-melawan, tidak perlu dan tidak demokratis sikap itu, berarti kita tidak siap berdemokrasi, padahal gembar-gembor mau demokrasi, demokrasi itu kan berani juga menerima kekalahan, bukan hanya kemenangan Walaupun saya sampai kapanpun, saya kira, saya akan punya catatan penting tentang Gibran, sulit sekali diterima itu” kata Hamid.

Meski begitu, Hamid menyoroti kedekatan Presiden Prabowo dengan mantan presiden, Joko Widodo, yang setidaknya sampai Pilkada kemarin masih saja cawe-cawe, bahkan turun langsung mendukung paslon-paslon tertentu. Karenanya, Hamid menyarankan, Presiden Prabowo harus mampu melepas itu.

Seorang Prabowo Subianto, lanjut Hamid, harus sadar kalau dia merupakan Presiden RI, pemimpin dari seluruh masyarakat Indonesia, baik yang memilih maupun tidak memilih dia. Sehingga, dia tidak bisa hanya mendengarkan elit-elit, termasuk dari mantan presiden, dan harus lebih mendengar suara publik.

“Sekarang saya kira salah satu yang bisa dilakukan dengan cepat dan mungkin sangat baik buat citranya juga terus secara konsisten melepaskan diri dari apa yang kita sebut sebagai bayang-bayang Pak Jokowi. Saya kira itu sangat tidak sehat, dia selain mengunjungi Jokowi langsung, belakangan mungkin karena dia mendengar kritik dia utus orang lain yang esensinya sama, terakhir dia utus Sekjen Gerindra, Pak Muzani,” ujar Hamid. (*)

Temukan kami di Google News.