Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, kecintaan kita kepada Indonesia bisa diekspresikan dengan banyak hal. Bisa mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang baik dan bermanfaat, tapi juga mengkritik dan meluruskan jika pemerintah keliru.
“Itu arti cinta kepada negara dan bangsa kita. Kalau saudara melihat Pak Mahfud itu suka mengkritik ya karena saya cinta kepada bangsa dan negara ini, karena kita akan mewarisinya. Tapi, juga sebenarnya saya juga memberi apresiasi terhadap apa yang sudah dicapai oleh pemerintah,” kata Mahfud dalam acara Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus Universitas Padjadjaran (Unpad) yang ditayangkan dalam YouTube Mahfud MD Official, Senin (19/10/2026).
Ia melihat, sebenarnya ada hal-hal yang agak berubah belakangan dan harus dihargai. Misalnya, masyarakat sempat begitu marah karena Presiden Prabowo terlalu sering ke luar negeri, bahkan sudah mencapai 47 kali sebelum pemerintahan mencapai 2 tahun.
“Kan Pak Prabowo sudah jarang ke luar negeri, tidak terlihat jalan-jalan lagi, itu artinya Pak Prabowo itu mendengar kritik cuma pura-pura marah saja kalau dikritik,” ujar Mahfud.
Mahfud memberikan contoh lain ketika belakangan Presiden Prabowo merubah komposisi politik karena dulu banyak kritik disampaikan soal itu. Banyak yang merasa Prabowo seperti tersandera, tidak berani berbuat karena ada kekuatan lain seperti Jokowi.
Ia melihat, setidaknya dalam beberapa bulan terakhir saja sudah terjadi perubahan-perubahan konfigurasi politik. Bagi Mahfud, Prabowo sedang melakukan strategi ke orang-orang di sekitarnya yang dirasa kerap memberi goncangan-goncangan mengganggu.
“Dia kurung di satu tempat, kamu di situ, tidak dilepas saja lalu dibiarkan kerja sendiri. Ada yang dilepaskan di Wantimpres, ada yang diletakkan di badan lain, lalu ada yang disuruh jadi menteri, dibiarkan jadi menteri. Itu bukan hadiah politik, itu sebenarnya satu cara menurut saya untuk mengendalikan orang, kamu ada di bawah kendali saya sepenuhnya, jangan main-main, dan menurut saya memang sudah waktunya,” kata Mahfud.
Mahfud menekankan, keseimbangan-keseimbangan dalam konfigurasi politik agar negara ini berjalan dengan baik memang perlu dilakukan di bawah pemerintahan Prabowo. Ia merasa, langkah itu menjadi sesuatu yang layak diberikan pujian sekaligus kritikan.
Ada pula obsesi Prabowo melaksanakan Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD), yaitu bumi, air, dan kekayaan alam benar-benar dikuasai negara. Bagi Mahfud, langkah itu perlu dipuji sebagai keberanian yang dulu jarang dilakukan pemerintah sebelumnya.
“Tapi, harus dikritik juga karena Pak Prabowo hanya memerintahkan itu secara tegas tapi kendali ke bawah lepas. Beliau tidak detail, sehingga pelanggaran-pelanggaran korupsi di bawah banyak. MBG apa kurang baik? Baik lah, mau ngasih makan orang miskin makanan bergizi gratis begitu, tapi beliau tidak detail dalam mengawasi pelaksanaannya, sehingga banyak korupsi yang terjadi di dalamnya,” ujar Mahfud.
Semula, lanjut Mahfud, orang-orang yang sejak lama sudah mengkritik malah mendapat sematan sebagai antek-antek asing, londo ireng, dan macam-macam. Padahal, publik memberikan kritik tetap mempersilakan MBG berjalan, tapi dihindari korupsinya.
Ternyata, ia menekankan, belakangan Prabowo baru mengetahui memang benar terjadi korupsi yang luar biasa di MBG. Tidak cuma di level Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tapi korupsi dilakukan pimpinan-pimpinan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“KDMP sama, bagus tidak? Bagus. Meskipun hari ini saya mendapat pesan dari seorang guru besar KDMP itu uangnya dari negara, fasilitasnya negara, mobilnya dari negara, pegawainya negara, ininya negara semua lalu rakyatnya mana? Apalagi, sekarang KDMP katanya disuruh membayar gaji-gaji ASN dari KDMP semua, itu akan rumit lagi nanti. Tapi oke, yang penting diawasi, terutama korupsi yang banyak terjadi,” kata Mahfud. (WS05)
