Jauh dari Sikap Rasulullah, Islah Bahrawi Kutuk Keras Persekusi Gereja di Tangerang

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (22/09/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (22/09/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, mengutuk keras persekusi yang dilakukan sekelompok pemuda intoleran kepada Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) di Rajeg, Tangerang. Islah mempertanyakan konsep ketuhanan yang diyakini para pelaku.

“Mereka tidak pernah mengusik orang Islam, mereka melaksanakan ibadatnya sesuai dengan keyakinannya. Lalu, mengapa kita harus gelisah? Kalau memang kita mengakui bahwa ketuhanan itu hanya satu, lalu kenapa kita harus gelisah dengan aksi orang lain ketika orang lain juga menyembah Tuhan?” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (22/09/2026).

Ia mengingatkan, adalah Tuhan SWT yang menciptakan kita semua, termasuk jemaat-jemaah GKPI yang mungkin dinilai memiliki pandangan yang berbeda tentang Tuhan. Karenanya, Islah mengaku heran ketika para pelaku mengaku dirinya sebagai Islam.

“Setidaknya, kita harus punya pembuktian terbalik bahwa semua manusia, apapun sukunya, apapun agamanya, diciptakan oleh Tuhan yang sama. Kita harus membangun Al Muqoddimatul Sugro dari situ, Al Muqoddimatul Kubro juga dari situ. Premis minor dan premis mayor di dalam ilmu mantik, kita harus memulai dari situ bahwa kita semua hanya ditentukan oleh takdir-takdir kelahiran yang berbeda,” ujar Islah.

Sebab, ia menekankan, cara terbaik menyebarkan Islam bagi seorang yang mengaku Muslim sudah pasti cara yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan, Rasulullah SAW selalu mengedepankan ahlakul karimah dalam menyebarkan Islam, dengan kesantuann.

Maka itu, Islah heran, masih ada saja orang-orang, ulama-ulama, ustaz-ustaz, atau habib-habib yang menyebarkan Islam dengan teriakan-teriakan ancaman. Mulai dari ancaman membakar, membunuh, menggantung, sampai mengayunkan senjata-senjata tajam.

“Saya kira Nabi tidak pernah mencontohkan hal-hal yang seperti itu, hal-hal yang buruk dari tingkah laku para ustaz, para ulama, para habib, para kyai, dan seterusnya ini tidak boleh kita tiru karena Rasulullah tidak pernah mengajarkan itu. Oleh karena itu, kejadian seperti yang ditangerang ini cukuplah menjadi yang terakhir,” kata Islah.

Bagi Islah, orang-orang yang mengaku Islam, yang sayang kepada Islam, harus pula mencontoh Nabi Muhammad SAW yang menyebarkannya lewat dakwah-dakwah menyejukkan. Apalagi, sangat banyak syiar-syiar Islam yang mampu mengedepankan kesantunan.

Ia mengingatkan, Rasulullah diludahi berkali-kali oleh orang Yahudi, dicaci-maki oleh orang Nasrani, tapi lebih memilih sabar melayani mereka. Hal itu yang malah membuat mereka tertarik karena ahlak yang ditunjukkan langsung Nabi Muhammad SAW.

“Oleh karena itu, saudara-saudaraku semua, terutama bagi yang beragama Islam, mari kita tunjukkan bahwa dengan berislam, bukan berarti kita harus terjebak ke dalam kebencian. Kita harus betul-betul menyebarkan agama ini, agama apapun, dengan penuh kesantunan, dengan ahlak yang baik, dan menyebarkan rahmat kepada siapapun, tanpa harus ada harapan mereka akan berpindah agama atau apapun,” ujar Islah.

Sebab, ia menambahkan, setidaknya ketika orang sudah beragama, dia harus sanggup untuk melayani kemanusiaan. Hal itu dikarenakan DNA dari semua agama-agama yang ada tidak lain adalah kemanusiaa, dan menyebarkan rahmat ke seluruh alam semesta.

Islah mengutuk keras persekusi yang terjadi di GKPI Rajeg, Tangerang, sekaligus berharap kejadian seperti itu tidak lagi terjadi. Ia mengajak semua beragama dengan penuh keterbukaan, serta menyadari semua dilahirkan dengan harga diri yang sama.

“Semua manusia punya hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan keyakinan-keyakinan yang dianutnya. Mari kita sebarkan rasa toleransi, koeksistensi, karena kita hidup dalam bangsa yang majemuk dan penuh dengan perbedaan ini. Supaya kita betul-betul menjadi masyarakat yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur,” kata Islah. (WS05)