Kejahatan lingkungan maupun tindakan KKN disebut sudah mengakibatkan kondisi hutan-hutan di Indonesia bukan lagi dalam level yang sangat parah, tapi sekarat. Hal itu disampaikan salah satunya oleh Koordinator Divisi Edukasi Publik ICW, Nisa Rizkiah.
“Sebegitu parahnya, saya tuh ada momen kayak setiap hari menangisi hutan, menangisi orang utan, menangisi trenggiling. Saya kayak sudah sampai di titik yang berpikir mungkin tidak usah tunggu 20 tahun lagi, 10 tahun ke depan kita mungkin sudah tidak akan melihat orang utan, kita sudah tidak akan melihat trengiling, hewan-hewan atau satwa-satwa liar di dalam hutan. Lebih parahnya, mungkin 20-30 tahun ke depan kita sudah tidak punya lagi hutan,” kata Nisa kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (10/09/2026).
Ia menuturkan, selama ini ICW sudah pula mengkampanyekan climate corruption dan meyakini kalau krisis iklim terjadi juga karena tindak pidana korupsi. Termasuk, korupsi di sektor lingkungan baik di tambang, hutan, yang kondisinya sudah parah.
“Kalau orang mungkin sudah dying, sekarang kondisi hutan atau kondisi lingkungan kita di Indonesia. Dan ke depan tadi ya soal climate corruption itu aku yakin akan semakin parah dampak krisis iklim yang kita terima karena kondisi hutan, lingkungan secara umum, baik itu yang terdampak tambang dan juga kerusakan hutan. Itu kayaknya sudah tidak bisa ditolong karena kemarin saya baca pohon itu baru bisa tumbuh 100 tahun untuk mencengkeram cadangan air dan tumbuh kokoh menjaga hutan,” ujar Nisa.
Ia mengingatkan, salah satu kondisi terburuk yang bisa diperkirakan dalam 10-20 tahun ke depan kita juga bisa kehilangan akses terhadap air dan udara bersih. Sebab, kondisi hutan dan lingkungan di Indonesia memang sudah sebegitu parahnya.
Senada, Koordinator Pengkampanye Nasional Walhi, Uli Arta Siagian melihat, kondisi hari ini sudah mengubah dan menambah jumlah musim di Indonesia. Kini, tidak cuma ada musim kering dan musim hujan, tapi ada pula musim banjir dan musim kebakaran.
“Ada 4 musim di Indonesia sekarang saking situasi hari ini tuh bisa mengubah dan menambah musim di Indonesia. Artinya apa? Kebakaran lahan dan banjir itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana kemudian gagalnya negara memastikan ekosistem hidup kita untuk bisa terjaga. Kalau kita melihat studi internasional yang sudah memberikan indikator atau menetapkan batasan planet, ada 9 batas planet kita sudah melampaui 7 batasan planet, batasan aman planet kita itu kita sudah melampaui 7,” kata Uli.
Uli mengingatkan, Indonesia sudah masuk dalam situasi krisis. Karenanya, ia turut mempertanyakan, jika sudah begitu sebenarnya masa depan seperti apa yang nantinya akan diwariskan oleh bangsa ini kepada generasi yang bahkan mungkin belum lahir.
Nisa menambahkan, korupsi di sektor lingkungan, baik itu hutan, nikel, batu bara, dan lain-lain merupakan sebuah pencurian terhadap sumber daya publik. Sebab, cuma dari alam itu manusia bisa mendapatkan air dan udara bersih, sehingga terus hidup.
“Tapi, ketika itu dikorupsi ya sudah, pada akhirnya sumber daya publik itu menjadi hilang. Jadi, sejahat itu korupsi di sektor lingkungan berdampak kepada manusia dan kerugian ekologisnya juga besar dan itu tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat,” ujar Nisa. (WS05)
