Mahfud MD di Ponpes Buntet: Ketika Sebuah Negara Tidak Menegakkan Hukum dengan Baik, Akhirnya Hancur

(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam Halaqoh Kebangsaan dan Kepesantrenan di Ponpes Buntet Cirebon, Rabu (29/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam Halaqoh Kebangsaan dan Kepesantrenan di Ponpes Buntet Cirebon, Rabu (29/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, pondok pesantren itu membawa pesan menyelamatkan tradisi moral yang diajarkan. Kemudian, oleh kyai-kyai sekarang itu semua diaktualkan karena bangsa ini sekarang sedang mengalami degradasi moral.

“Kelihatan baik tapi pencuri, maling, koruptor besar, sebelum ketahuan dia seperti baik-baik saja, sering datang ke pesantren, shalat ditunjukkan kepada orang, tapi ternyata di belakang itu terbongkar. Sering pergi umroh gitu karena uangnya banyak, ternyata ada korupsi besar-besar,” kata Mahfud dalam Halaqoh Kebangsaan dan Kepesantrenan di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, Rabu (29/07/2026).

Ia menconthkan kasus Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah, dengan barang bukti antara lain emas batang 74 kilogram dan uang tunai lebih dari Rp 600 miliar. Ironisnya, itu hanya dari 2 tempat, sedangkan tempat lain malah dijaga tentara.

“Itu apa? Degradasi moral. Oleh sebab itu, peran pesantren ke depan itu, tradisi pesantren yang dulu penuh keakraban, penuh kejujuran, dan penuh ketulusan harus diaktualkan di zaman sekarang dan Anda semua santri-santri harus siap memperbaiki negara ini, harus siap. Dulu kalau orang pesantren dianggap tidak mampu, sesudah Reformasi oleh Gus Dur dicari itu anak-anak muda itu, ayo,” ujar Mahfud.

Hasilnya, ia menyampaikan, ada santri-santri seperti Alwi Shihab yang jadi Menteri Luar Negeri, Mahfud MD yang jadi Menteri Pertahanan, Khofifah Indar Parawansa jadi Menteri Peranan Wanita. Ada pula Muhaimin Iskandar yang jadi Wakil Ketua DPR.

Setelah itu, Gus Dur membuka mata masyarakat luas kalau anak-anak pesantren bisa mengurus negara, mengurus pemerintahan. Karenanya, ia berpesan, santri-santri hari ini harus bisa meneruskan itu, tanpa melupakan moral yang ditanamkan pesantren.

“Saudara harus melanjutkan itu, tapi yang harus dijaga moral dan moralitas karena bangsa tanpa moral itu lalu bisa sesat, nah yang harus menjaga moralitas itu adalah Anda semuanya, pesantren ini, jaga ke depan moral ini. Oleh sebab itu, ke depannya pesantren itu menjadi sangat penting adik-adik sekalian,” kata Mahfud.

Sekarang, ia menambahkan, orang-orang besar di Jakarta seperti pengusaha dan profesional itu sangat suka menyekolahkan anaknya belajar di pondok pesantren. Pasalnya, ketika disekolahkan di sekolah-sekolah umum dirasa sudah tidak aman.

Maka itu, banyak pondok-pondok pesantren itu laris di kota besar, dengan konsep pesantren modern, pesantren konvensional, atau pesantren yang dimodifikasi. Mahfud berharap, ke depan pondok pesantren harus bisa menjadi tuan rumah di Indonesia.

“Karena rumah Indonesia ini dibangun oleh bangsa Indonesia yang didukung sepenuhnya oleh pesantren dengan dasar ideologi negara Pancasila. Satu, moral, moral itu dasar dari setiap tindakan hukum karena hukum itu sumbernya adalah moral agama, moral, etika, budaya, tradisi itu kalau sudah dibuat aturan itulah menjadi hukum Oleh sebab itu, hukum yang tidak bermoral itu berbahaya dan ketika sebuah negara tidak menegakkan hukum dengan baik, negara itu pada akhirnya akan hancur,” ujar Mahfud. (WS05)