Ternyata Ada 600 Lebih Nabi di Indonesia, Ini Penjelasan Prof. Al Makin

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (02/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (02/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin, melakukan penelitian mendalam atas kemungkinan keberadaan nabi-nabi di Indonesia. Dimulai dari pernyataan sederhana apakah orang Indonesia punya nabi, mampu jadi nabi, atau punya nyali menjadi nabi.

“Pertanyaan saya di situ. Setelah itu saya mulai riset, hasilnya kira-kira kita punya nabi jumlahnya itu lebih dari 600. Sangat mudah itu, misalnya saya datang ke Kesbangpol, di Yogya saja, di situ ada kelompok atau disebut aliran kepercayaan itu lebih dari 200,” kata Al Makin kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (02/07/2026).

Ia mengingatkan, di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika dibuka kolom agama selain 6 yang sudah ada, sepekan ratusan agama didaftarkan. Uniknya, sejak zaman kolonial jika ada pemberontakan selalu terkait gerakan-gerakan spiritualisme.

“Dan rata-rata mendapat wahyu dan pengikut, yang paling menonjol Gerakan Ratu Adil, Diponegoro, tapi di luar itu sebenarnya banyak. Misal, di Banten ada, di Surabaya itu di Gedangan. Nabi itu siapa, satu dia menyatakan diri mendapat wahyu, dawuh, sabda, bisikan, ilmah. Kedua, mereka berhasil menarik pengikut atau umat. Ketiga, ada gerakan sosial, ada misi yang dibawa untuk mengubah dunia menjadi lebih baik,” ujar Al Makin.

Ia mencontohkan gerakan-gerakan di Wonosobo, di Karangkobar seperti Syekh Jumadil Kubro yang mengaku mendapat wahyu dan memimpin gerakan-gerakan melawan Belanda berdasar wahyu itu. Artinya, dia mengonsolidasikan kekuatan dari atas ke bawah.

Ada pula Suku Samin di Blora yang terbilang sangat sistematis karena miliki ajaran sendiri yang beda dari ajaran kebanyakan. Al Makin menerangkan, di Pulau Jawa saja ada titik-titik vital seperti di Bogor, Cirebon, atau Ciamis untuk Jawa Barat.

“Di Manggarai, Jakarta, itu ada namanya Imam Solihin yang menyatakan sebagai nabi, dapat wahyu, reinkarnasi Bung Karno, dan lain-lain. Kemudian, di Jawa Timur misal ada Banyuwangi, Madura ada beberapa, Blitar, Kediri, Surabaya. Bicara luar Jawa misalnya Makassar, Palu, itu banyak. Kemudian, di Sumatera ada Lampung, beberapa. Lombok. Rumusnya dalam buku saya, saya terangkan setiap ada krisis, zaman apapun akan memunculkan nabi. Di Indonesia misalnya krisis penjajahan, ketika ekonomi itu sangat sulit di era penjajahan, muncul orang-orang mengklaim nabi,” kata Al Makin.

Al Makin menyampaikan, di Sumatera, Batak, Sisingamangaraja diklaim inspirasi nabi-nabi seperti Guru Suma, Raja Mulia Naipospos, atau Nasiakbagi. Agama ada Parmalim, Ugamo Bangsa Batak, atau Ugamo Putih. Banyak agama itu yang lahir di zaman Belanda.

Soal penggunaan bahasa nabi atau bahasa spiritual, Al Makin menilai, memang karena itu merupakan bahasa yang dipakai di Indonesia. Zaman sekarang, ia berpendapat, itu seperti mendirikan perusahaan atau partai politik dalam rangka mengubah keadaan.

“Jadi, krisis politik, krisis ekonomi, itu juga melahirkan nabi. Tahun 1965 kan krisis, itu juga banyak melahirkan orang yang mengklaim menjadi nabi. Nah, sekarang ini kondusif, hujan ini, jamur akan tumbuh. Saya sudah menemui di Medan baru-baru ini, sudah menulis risalah bahwa ini butuh diselamatkan bangsa ini, bangsa ini sedang terpuruk, jawabannya bukan partai politik, tapi Nabi, dan itu saya. Artinya, laten ini, tapi sayangnya respons kita, terutama dari politik memenjarakan mereka,” ujar Al Makin.

Al Makin meyakini, di masa mendatang fenomena seperti ini tidak akan berhenti. Bahkan, dengan ancaman seperti diadili, dipenjarakan, dan lain-lain malah akan menjadi semacam satu legitimasi atas gerakan-gerakan mereka yang semakin kuat.

Malah, ia menambahkan, bisa jadi masuk penjara nantinya menjadi satu ciri penting kalau ingin mengaku nabi terhadap pengikutnya. Al Makin sendiri memandang ini sebagai satu kekayaan atas tradisi kenabian yang seharusnya bisa diapresiasi.

“Cuma, kita tidak cukup apresiatif, ini kan kekayaan yang bisa diapresiasi dan jangan-jangan kita itu bangkit dari situ. Dari pamer demokrasi kita kalah, sepak bola saja tidak bisa kita, jangan-jangan dari kebatinan, jangan-jangan inilah kontribusi kita kepada dunia, bahwa kita punya 600 nabi,” kata Al Makin. (WS05)

Temukan kami di Google News.