Jangan Rasionalkan Pelecehan, Tolak Setiap Perbuatan Orang Lain yang Membuat Tubuh Tidak Nyaman

Psikolog, Tara de Thouars, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/04/2026). Foto: Wahyu Suryana
Psikolog, Tara de Thouars, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/04/2026). Foto: Wahyu Suryana

Psikolog, Tara de Thouars, memberikan tips untuk tidak merasionalkan pelecehan. Salah satunya, ia menerangkan, korban pelecahan harus mendengarkan naluri tubuh karena ketika terjadi pelecehan sudah pasti tubuh mengalami perasaan tidak nyaman.

“Pasti di tubuh itu terasa tidak nyaman. Tapi, proses rasionalisasi ketika sedang terjadi, ini maksudnya apa ya dia melakukan ini, ini kenapa ya, dia bercanda kah, dia beneran kah, jangan-jangan aku yang lebay, apakah aku yang sensitif, jangan, jangan begitu, jangan malah merasionalkan,” kata Tara kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/04/2026).

Ia memahami, ada kondisi yang menakutkan saat seseorang sedang mengalami pelecehan, sehingga pikiran kerap mencoba merasionalkan tindakan itu. Sebagai korban, Tara menekankan, dengarkan naluri tubuh apakah tindakan itu terasa nyaman atau tidak.

“Kalau tubuhnya terasa tidak nyaman, maka dia harus bisa bilang no, harus melihat bahwa oh berarti kalau aku tidak nyaman, aku harus dengerkan ini, dan aku harus melakukan sesuatu, aku harus minta bantuan, aku harus bilang tidak, aku harus kasih tahu kalau aku tidak nyaman. Jadi, dengarkan tubuh karena tubuh yang paling tidak bisa bohong. Secara rasional kita masih bisa memanipulasi, tidak, cuma bercanda. Tapi, kalau saya tidak nyaman, berarti benar-benar tidak nyaman,” ujar Tara.

Pada kesempatan itu, Tara turut menyampaikan berbagai hasil survei yang sangat menyedihkan terkait korban perempuan yang mengalami tindak pelecehan seksual. Ia menyebut, perempuan yang berani mengadukan masalahnya hanya sekitar 15 persen.

Bahkan, lanjut Tara, kalau ada tindakan perkosaan hanya sekitar 5 persen yang berani melaporkan apa yang telah dialami. Ia berpendapat, fenomena itu banyak disebabkan fakta tentang korban yang lebih banyak merugi setelah melaporkan.

“Karena, sering kali tidak berpihak pada korban, korbannya justru yang akan lebih banyak mengalami kerugian ketika aku melaporkan. Orang jadi tahu, proses panjang, dia jadi malu, dianggap aib, belum lagi dia di-judge negatif. Jadi, ya sudah deh, mendingan ditutup buku. Padahal, sebetulnya efek traumatisnya itu panjang banget,” kata Tara.

Tara menyampaikan, ketika perempuan mengalami tindakan pelecahan sebanyak 70 persen memang dalam kondisi beku. Hal itu membuat mereka kerap diam dan yang paling parah sikap diam korban itu malah kerap diartikan sebagai sikap menerima tindakan itu.

Padahal, ia mengingatkan, tubuh beku yang dialami korban sangat bisa dikarenakan rasa takut yang menyelimuti. Apalagi, biasanya pelecehan terjadi karena ada relasi kuasa, yang membuat korban kerap merasa tidak berdaya untuk melakukan perlawanan.

“Kalau orang panic attack kayak ini tikus, kalau dia diincar sama kucing, dia mau lari tidak mungkin bisa karena kucingnya pasti lebih besar, dia mau kabur tidak mungkin, dia mau melawan tidak mungkin. Makanya, relasi kuasa ini,” ujar Tara.

Menurut Tara, kondisi-kondisi seperti itu yang membuat korban pelecehan banyak yang memilih jalan teraman yaitu diam. Sebab, ia menjelaskan, secara psikis orang akan berpikir sikap diam akan membuat semuanya cepat selesai, semuanya cepat berlalu.

Sementara, ia menambahkan, jika dia melakukan perlawanan, besar kemungkinan pelaku akan melakukan perlawanan. Pun jika memilih untuk kabur, korban berpiikir kalau dia mungkin akan dikejar oleh pelaku, sehingga banyak membuat korban yang memilih diam.

“Jadi, respons-respons naluriahnya adalah freezing. Tapi, jangan salah tangkap loh, bukan berarti kalau freeze itu berarti aku menyetujui, aku menginginkan, tidak. Ini yang kebanyakan orang belum paham. Padahal, itu respons-respons takut sebetulnya,” kata Tara. (WS05)