Kuat Teknologi sampai Ideologi, Iran Kejutkan AS-Israel Bahkan Dunia

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (05/04/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (05/04/2026). Foto: Wahyu Suryana

Perang Iran melawan AS-Israel masih berlangsung. Di luar dugaan, Iran tampak mampu menghadapi dua kekuatan besar di bidang militer itu. Tokoh Madura, Islah Bahrawi mengatakan, durasi perang yang panjang betul-betul jadi kejuatan yang luar biasa.

“Banyak pengamat di negara kita yang mengatakan awal-awal dulu perang ini akan hanya berlangsung kurang lebih 3 hari, ada yang bilang tidak lebih dari seminggu,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (05/04/2026).

Ia mengira, banyak pengamat-pengamat militer, terutama soal geopolitik, yang tidak tahu tentang kapasitas Iran dalam persoalan militer. Sehingga, analisis-analisis yang ada menggambarkan seolah perang Iran dan AS-Israel ini akan segera berakhir.

Islah merasa, mungkin analisis ini mengacu ke perang AS di Timur Tengah pada 1991 dan 2003 pasca 911 yang mana perang-perang ini bisa dilewati dengan mudah oleh AS. Termasuk, approval rate Presiden AS di 1991 dan Preisden AS di 2004 yang tinggi.

“Kebetulan pada tahun 2003 saya di Amerika, saya merasakan bagaimana approval rate-nya Amerika pada masa itu Presiden Bush sangat luar biasa. Rakyat Amerika hampir seluruhnya mendukung ketika Presiden Bush melakukan invasi ke Irak,” ujar Islah.

Saat itu, ia menerangkan, gairah rakyat AS memberikan dukungan penuh terhadap pemerintahnya ketika mereka melakukan invasi dan menumbangkan Saddam Hussein. Tapi, Islah melihat, hari ini Donald Trump betul-betul mengalami pertaruhan luar biasa.

“Ternyata semua orang, termasuk pengamat-pengamat militer yang ada di Indonesia, buta terhadap kekuatan Iran. Harus kita paham Iran sejak pasca revolusi 1979 tidak ada satu negara pun yang paham tentang Iran, terutama terkait logistik militernya,” kata Islah.

Selama 47 tahun, ia mengingatkan, hampir setengah abad Iran diembargo oleh negara-negara Barat, sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa memahami kekuatan militer Iran. Sementara, kita mengukur kekuatan militer dari manifest pembelian senjatanya.

Sebab, lanjut Islah, dari sana bisa dilihat satu negara memiliki berapa senjata, berapa pesawat tempur, atau berapa kapal perang. Tapi, Iran sebagai negara yang diembargo hampir 50 tahun tidak bisa menyajikan data-data manifest pembelian itu.

“Ternyata, Iran berhasil membuat sendiri seluruh persenjataannya. Kalaupun mereka punya senjata-senjata militer, mereka berusaha memodifikasi sesuai kemampuannya dan satu lagi Iran negara yang betul-betul berdaya secara keilmuan. Ini yang membuat berbagai analisis kemudian meleset, kita semua meleset tentang Iran,” ujar Islah.

Selain itu, ia menekankan, Iran memiliki ideologi yang kuat. Sejak revolusi, Iran diisi orang-orang yang satu barisan dalam ideologi, sehingga secara ideologi Iran diisi orang-orang yang heterogen. Semua itu ditambah keilmuwan orang-orang Persia.

Terbukti, selama ribuan tahun orang-orang Persia menemukan ilmu kedokteran yang berinovasi dalam botani, astronomi, dan lain-lain. Artinya, ia menegaskan, dalam konteks itu mereka memiliki kemampuan genetik yang secara keilmuwan luar biasa.

“Hari ini, ternyata Iran sanggup memproduksi dan mereproduksi persenjataan mutakhir yang dikembangkan sendiri. Ini yang terjadi, kita tahu rudal balistik Iran ternyata bisa sampai 15 Mach speed. Artinya, ini adalah peluru kendali hipersonik yang bisa menjangkau hingga 2.000 kilometer, senjata-senjata mereka ternyata betul-betul berakselerasi, berakselerasi dengan teknologi perang di seluruh dunia,” kata Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.