Di Masjid Salman ITB, Mahfud MD Ajak Masyarakat Jangan Lelah Cintai Negeri dengan Sepenuh Hati

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam acara Inspirasi Ramadhan (Irama) 2026 yang digelar di Masjid Salman ITB, Minggu (01/03/2026). Foto: Rizal Mustary
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam acara Inspirasi Ramadhan (Irama) 2026 yang digelar di Masjid Salman ITB, Minggu (01/03/2026). Foto: Rizal Mustary

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengajak masyarakat terus mencintai Indonesia. Ia mengatakan, apapun kondisi hari ini yang mungkin masih tidak sesuai dengan apa yang masyarakat harapkan, kita harus tetap mencintai Indonesia dengan sepenuh hati.

“Saudara harus cintai Indonesia, jaga Indonesia ini agar tidak hancur karena ketidakadilan, kenapa harus dicintai karena Indoneisa ini berkat rahmat Allah yang maha kuasa,” kata Mahfud dalam Inspirasi Ramadhan (Irama) 2026 bertajuk ‘Tumpul ke Atas Tajam ke Bawah: Bagaimana Masa Depan Hukum di Indonesia’ di Masjid Salman ITB, Minggu (01/03/2026).

Ia mengingatkan, dulu Indonesia sebelum merdeka bisa dikatakan 90 persen diisi orang-orang miskin karena yang memiliki kehidupan ekonomi layak hanya sebagian. Tapi, hari ini orang-orang miskin di Indonesia sudah tersisa sekitar 8,7 persen.

Mahfud menegaskan, kemerdekaan itu yang membuat kita semua bisa bersekolah, bisa membangun karir, dan bisa menjalani hidup dengan layak. Karenanya, ia menyampaikan, kita sebagai tumpah darah Indonesia tidak boleh sekalipun lelah mencintai negeri.

“Oleh sebab itu, cintai negeri ini dengan sepenuh hati, jangan pernah lelah saudara mencintai indonesia ini, cintai sungguh-sungguh karena ini berkat Allah, bahwa ada kekurangan di sana sini, nah itu yang harus kita lawan agar indonesia ini selamat,” ujar Mahfud.

Terlebih, lanjut Mahfud, jika terjadi ketidakadilan. Ia menekankan, jika kondisi ketidakadilan itu dibiarkan, hanya menunggu waktu saja sampai Indonesia ini hancur. Padahal, ia menilai, sebuah negara yang sudah hancur sangat susah disatukan lagi.

Mahfud memberi contoh seorang alumnus penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, di Inggris yang mengaku bangga anaknya tidak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Bagi Mahfud, Tyas jadi contoh orang yang mungkin sudah lelah mencintai Indonesia.

Hal itu yang dirasa membuat orang seperti Tyas merasa cukup dirinya yang jadi WNI, jangan sampai anaknya. Padahal, Mahfud menerangkan, negara terdiri dari pemerintah, rakyat, wilayah, dan mungkin yang membuat kecewa sebenarnya hanya pemerintahnya.

Walaupun ikut marah atas apa yang diucapkan, Mahfud merasa, itu sebenarnya lebih didorong kekecewaan atas pengelolaan negara ini. Karenanya, ia mengajak masyarakat jangan lelah mencintai Indonesia dan membantu mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

“Mari, saudara, menjadi gelombang baru bagi peradaban Indonesia yang lebih baik, mudah-mudahan saudara sekalian turut bisa menjaga negara ini sesuatu dengan cita-cita kemerdekaannya,” kata mantan Ketua MK, Anggota DPR RI, dan Menkopolhukam itu. (WS05)

Temukan kami di Google News.