Perencana keuangan, Yodhi Kharismanto mengatakan, kecenderungan generasi muda kini masih dalam pekerjaan pertama yang gajinya mungkin UMR atau sedikit di atas UMR. Karenanya, banyak dari mereka yang gajinya sudah habis untuk memenuhi kebutuhan.
Kondisi itu masih ditambah posisi mereka yang menjadi generasi sandiwich, masih harus menghidupi orang tuanya atau saudaranya. Meski begitu, Yodhi menyarankan, mereka harus senantiasa terbuka kepada mereka yang dihidupi terkait kemampuannya.
“Kita juga harus terbuka dengan orang-orang yang kita hidupi. Sebenarnya, ini yang kadang di Indonesia jarang dilakukan karena bicara keuangan kadang tabu ya,” kata Yodhi kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (19/02/2026).
Ia mengingatkan, kondisi itu sudah berlangsung malah sejak orang tua kita dulu, yang mana tabu mereka terbuka membicarakan tentang gaji kepada anak-anak mereka. Padahal, Yodhi menekankan, penting mereka yang kita hidupi memahami kemampuan kita.
“Misalnya, kita menghidupi keluarga, orang tua, kita harus kasih tahu, Mama, Papa, gaji saya Rp 6 juta per bulan, saya mampu berkontribusi untuk Ayah, untuk Ibu agar keuangan saya aman sekian juta agar mereka memahami kemampuan anak saya sekian,” ujar Yodhi.
Yodhi mengungkapkan, cukup banyak klien-klien yang dia tangani merupakan generasi sandwich, tapi tidak pernah terbuka terkait kemampuan mereka. Akibatnya, apa saja yang diminta orang tuanya, keluarganya, atau saudaranya selalu diusahakan dipenuhi.
Bagi Yodhi, sebagai anak berbakti dan berusaha memenuhi apa yang dibutuhkan orang tua, keluarga, atau saudara tentu saja sesuatu yang baik. Tapi, ia menekankan, jika dibiasakan tidak terbuka pada akhirnya kita sendiri yang akan menanggung dampaknya.
“Jadinya kita sebagai individu jadi terluka, terbebani karena dia tidak berani jujur, akhirnya utangnya malah jadi banyak. Jadi, kita terbuka dengan orang yang terdekat kita agar dia tahu kemampuan kita berapa per bulan,” kata Yodhi.
Untuk mengendalikan pengeluaran, Yodhi menyarankan, generasi muda sangat perlu mengontrol emosi yang pasti lebih dulu terpancing dibanding logika. Karenanya, ia menekankan, kita perlu memberikan waktu agar pikiran bisa berpikir secara logis.
Salah satu cara yang bisa dilakukan dengan menunda pengambilan keputusan. Misalnya, menunda satu menit agar kita bisa tenang dan berpikir secara rasional. Bahkan, bisa menunda selama 24 jam dan meminta pandangan bijaksana dari orang-orang terpercaya.
Yodhi berpendapat, itu penting agar generasi muda tidak terkena jebakan-jebakan suasana yang sebenarnya tidak ada seperti You Only Live Once (YOLO) atau Fear of Missing Out (FOMO). Hal itu membantu generasi muda mengendalikan pengeluarannya.
“Jangan semuanya lari ke hal-hal yang kita memang pengen aja. Nah, kalau kita sudah bisa mengontrol hal-hal yang seperti itu sudah sangat bagus banget, itu berarti kita sudah sangat cerdas dalam mengontrol pikiran kita,” ujar Yodhi. (WS05)
