‘Kalau Etika Komedi Dipersoalkan, Apakah Tanding Tinju atau Orang Jahat di Film Harus Dilarang’

Komika, Arie Kriting (tengah), dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (17/01/2026). Foto: Wahyu Suryana
Komika, Arie Kriting (tengah), dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (17/01/2026). Foto: Wahyu Suryana

Komika, Satriaddin Maharinga Djongki atau Arie Kriting, mengomentari lawakan Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan bertajuk Mens Rea di Netflix yang diperkarakan soal etikanya. Padahal, ia berpendapat, apapun itu harus dilihat konteksnya seperti apa.

Ia memberikan contoh soal memukul orang lain yang jelas melanggar hukum dan bukan sesuatu yang etis. Jika begitu, Arie mempertanyakan, apakah kita harus melarang pertunjukkan yang menampilkan orang memukul orang lain seperti pertandingan tinju.

“Kalau kita bilang memukul itu sesuatu yang tidak etis, berarti kita larang semua pertandingan tinju, semua pertandingan karate, semua pertandingan silat, larang semua itu pertunjukan karena kan ada adegan memukul orang lain di situ. Tapi, kita sepakat itu sebuah pertandingan, pertunjukan olahraga, orang datang dengan konteks menonton pertandingan olahraga,” kata Arie kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (13/01/2026).

Jadi, ia menekankan, ada konteks ketika kita semuanya menonton pertandingan tinju seperti itu. Malah, Arie menyebut, alangkah anehnya ketika habis pertandingan tinju itu tiba-tiba ada yang marah karena ada adegan saling pukul dalam pertunjukkan itu.

“Tidak begitu, ada konteksnya yang harus kita bicarakan, sama dengan pertunjukan komedi. Misal, ada keresahan yang terlontar dengan ada kemarahan dan ditertawakan orang ya keseniannya di situ, memang cara merepresentasikannya itu seperti itu,” ujar Arie.

Bagi Arie, ketika komedian harus memperhatikan sopan santun, harus super hati-hati terhadap etika, sulit pula mencari kelucuan atau menjadikan materinya jadi lucu. Padahal, ia menegaskan, harus pula dilihat substansi apa yang ingin disampaikan.

Menurut Arie, itu sama saja seperti seorang aktor yang memainkan peran sebagai karakter jahat. Jika tidak dilihat konteksnya, ia mempertanyakan, apakah aktor itu harus dilarang karena berbuat jahat atau itu harus diperankan dengan sopan santun.

Arie menambahkan, dulu ayahnya sering bermain drama dan memainkan peran sebagai Abu Jahal. Karena perannya, dalam konteks drama itu, ayah Arie harus memainkan karakter sebagai orang yang sangat jahat, dengan suara yang keras, bahkan muka yang garang.

Kalau tidak dilihat konteksnya, tentu aneh ketika ayahnya yang memainkan peran Abu Jahal tidak boleh memainkan peran jahat. Terasa aneh pula ketika ayahnya harus menggambarkan zaman jahiliyah, tapi hanya boleh dimainkan dengan penuh etika.

“Ketika semua yang hadir dituntut untuk sesuai dengan nilai-nilai moralnya mereka, berarti boleh dong menghina orang, boleh dong berkata kasar, tidak, lihat konteks. Memukul orang tidak boleh, tapi kalau pertandingan tinju masa tidak boleh mukul, permisi mas, saya boleh pukulin tidak, sopan tapi bukan itu,” kata Arie. (WS05)

Temukan kami di Google News.