Sebelum Bicara 19 Juta Lapangan Kerja, Mampukah Pemerintah Akomodir 500.000 Lulusan S1 Baru Setiap Tahun?

Founder Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto (tengah) dan pencari kerja, Kirwan (kanan) dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (09/01/2026). Foto: Wahyu Suryana
Founder Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto (tengah) dan pencari kerja, Kirwan (kanan) dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (09/01/2026). Foto: Wahyu Suryana

Founder Headhunter Indonesia, Haryo Utomo Suryosumarto mengatakan, hari ini fresh graduate masih sangat dibutuhkan perusahaan-perusahaan. Tapi, ia melihat, selain standar perusahaan semakin tinggi, setiap tahun lulusan S1 saja sampai 500.000.

Artinya, ia menyampaikan, setidaknya ada setengah juta pemburu kerja baru setiap tahunnya yang merupakan lulusan S1 saja. Belum digabungkan dengan lulusan SMA, SMP, SD yang tentu semuanya harus bersaing dengan sangat ketat untuk mendapat pekerjaan.

“Pertanyaannya adalah lapangan kerjanya ada tidak? Nah, itu yang kemudian kita tarik mundur ke belakang, kalau saya melihatnya adalah tidak usah ngomong 19 juta lapangan kerja deh, untuk mengakomodir 500.000 lulusan baru ini pemerintah sanggup atau tidak,” kata Haryo kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (09/01/2026).

Sebab, ia menekankan, jika janji 19 juta lapangan kerja itu benar-benar diwujudkan dalam 5 tahun, per tahun ada 3,8 juta pekerjaan baru yang siap diisi. Karenanya, Haryo mempertanyakan, sebenarnya apa defisini janji 19 juta lapangan kerja itu.

“Nah, sebenarnya saya mau ini kan, itu 19 juta itu sebenarnya definisinya apa? Lapangan kerja informal kah? Kalau 19 juta harusnya kan kita tampung semua, harusnya tidak ada pengangguran, malah kekurangan tenaga kerja,” ujar Haryo.

Ironisnya, data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) 2025 malah ada setidaknya 70.000 orang pekerja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Yang mana, mereka berarti masuk kategori menganggur dan menambah angka pengangguran yang sudah ada.

Meski begitu, Haryo membagikan tips-tips untuk fresh gradute mencari kerja. Ia merasa, ada banyak pelamar belum memahami diri sendiri, terutama fresh graduate yang membayangkan ketika lulus kuliah mereka harus kerja dan mau kerja apa saja.

Masalahnya, Haryo menuturkan, dalam dunia kerja perusahaan malah tidak bisa merekrut orang yang memiliki pemikiran bersedia bekerja apa saja. Apalagi, seperti sudah menyatakan kalau perusahaan tempatnya bekerja merupakan wahana belajar.

“Kenapa? Pemikiran perusahaan setiap kali merekrut orang adalah kamu bisa memecahkan masalah apa yang sedang dihadapi oleh perusahaan,” kata Haryo

Otomatis, lanjut Haryo, ketika ke luar kata-kata seperti ‘apa saja deh’ dalam sesi wawancara itu seperti memberikan gambaran kurang baik kepada perusahaan. Terutama, kalau pelajar belum tahu apa yang bisa dikerjakan untuk membantu perusahaan itu.

Padahal, ia menekankan, yang seharusnya bisa ditampilkan pelamar itu memiliki kemampuan apa dan bisa memecahkan masalah apa. Menurut Haryo, menyatakan siap kerja apa saja malah membuat nilai dari pelajar kerja tidak terlihat di mata perusahaan.

“Ketika value tidak kelihatan otomatis orang akan melihat kita sama seperti 5.000, 10.000 pelamar yang lain,” ujar Haryo. (WS05)

Temukan kami di Google News.