Perkumpulan Penggerak Muda mengecam keras dugaan serangan serta penangkapan Presiden Republik Bolivarian Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat (AS).
Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk nyata imperialisme yang terus dipraktikkan AS terhadap negara-negara Amerika Latin.
Dalam pernyataan resminya, Perkumpulan Penggerak Muda menegaskan bahwa peristiwa ini bukanlah insiden tunggal. Sebaliknya, tindakan tersebut dinilai sebagai bagian dari rangkaian panjang intervensi politik dan tekanan hegemonik AS terhadap negara-negara yang menolak tunduk pada kepentingannya.
Executive Director Perkumpulan Penggerak Muda, Soraya Oktaviani, mengatakan AS kembali memperlihatkan watak hegemoniknya dengan menekan negara berdaulat yang memilih jalan politik independen.
“Venezuela diserang bukan karena kegagalannya, melainkan karena keberaniannya menolak dominasi imperialisme Amerika Serikat,” ujar Soraya dalam keterangannya, Selasa (6/1/2026).
Soraya juga mengkritik narasi yang kerap digunakan AS untuk membenarkan tindakan agresifnya di berbagai belahan dunia. Menurutnya, istilah seperti demokrasi, stabilitas, dan penegakan hukum internasional sering kali dijadikan tameng untuk menutupi praktik intervensi.
“Kami menolak narasi palsu yang membungkus agresi dengan istilah ‘demokrasi’, ‘stabilitas’, atau ‘penegakan hukum internasional’. Sejarah Amerika Latin membuktikan, istilah-istilah itu kerap menjadi kedok perampasan kedaulatan dan sumber daya,” tegasnya.
Dia mencontohkan sejumlah negara Amerika Latin, seperti Kuba, Chili, Nikaragua, Bolivia, dan Venezuela, yang disebutnya pernah menjadi korban intervensi serupa.
Senada dengan Soraya, Program Director Perkumpulan Penggerak Muda, Robi Maulana, menilai penargetan terhadap pemimpin negara yang sah merupakan ancaman serius bagi prinsip anti-kolonialisme global.
“Ini bukan hanya soal Venezuela. Ini peringatan bagi seluruh negara berdaulat. Siapa pun yang berdiri di luar kepentingan imperium akan dihadapkan pada tekanan, stigma, dan kekerasan struktural,” ujar Robi.
Dalam pernyataan sikapnya, Perkumpulan Penggerak Muda menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela, bangsa-bangsa Amerika Latin yang melawan dominasi neokolonialisme, serta gerakan rakyat dunia yang menentang ketidakadilan global.
Mereka menegaskan, Amerika Latin bukan “halaman belakang” negara mana pun, dan kedaulatan tidak boleh dijadikan alat tawar-menawar geopolitik.
Selain itu, organisasi tersebut menyerukan kepada kaum muda, gerakan progresif, dan organisasi rakyat di Indonesia maupun di tingkat global untuk bersuara dan menunjukkan solidaritas nyata.
“Diam berarti bersekutu dengan penindasan,” demikian pernyataan Perkumpulan Penggerak Muda.
Pernyataan tersebut ditutup dengan seruan untuk melawan imperialisme, memperkuat solidaritas Global South, serta mendukung kemerdekaan dan kedaulatan bangsa-bangsa Amerika Latin. FB03
