Nadirsyah Hosen Terkesan Pribadi Mahfud MD yang Mau Mendengar, Walau ke Junior

Profesor Hukum di Melbourne Law School Australia, Nadirsyah Hosen, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (03/01/2025). Foto: Wahyu Suryana
Profesor Hukum di Melbourne Law School Australia, Nadirsyah Hosen, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (03/01/2025). Foto: Wahyu Suryana

Profesor Hukum di Melbourne Law School Australia, Prof Nadirsyah Hosen, mengungkap kedekatannya dengan sosok Mahfud MD. Hal itu diungkapkan akademisi yang sudah 20 tahunan mengajar hukum konstitusi Australia itu ketika berkunjung ke Indonesia.

“Saya tuh tersanjung karena masuk ke Ruang Sahabat ini, jadi saya secara official dianggap sahabat beliau, padahal beliau itu senior saya, saya junior beliau,” kata pria yang akrab disapa Gus Nadir itu kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (03/01/2025).

Nadir dan Mahfud bisa dibilang menggeluti bidang yang sama, sama-sama merupakan pakar hukum tata negara, dan sama-sama seorang Nahdliyyin kultural, walau pernah masuk struktural. Namun, Nadir merasa, Mahfud tetap seniornya dari banyak segi.

Dari segi pengalaman, ia menganggap, Mahfud yang sudah berpengalaman di eksekutif, yudikatif, dan legislatif memang benar-benar senior. Tapi, justru di situ Nadir merasa terkesan karena ia merasa Mahfud sosok yang mau mendengarkan juniornya.

“Saya kira beliau ini ngemong sama anak muda, dan mau mendengar. Jadi, kalau beliau datang ke Melbourne, ngobrol, kasarnya tuh gini, setolol apapun yang saya omongkan, beliau mendengar, dia menyimak dulu, betapapun sok tahunya saya, beliau mendengar,” ujar Nadir.

Sebagai tuan rumah, Mahfud mengungkapkan, sosok Nadir walaupun lebih muda memang sudah lama menjadi sahabat diskusi. Walau terpisah jarak dan waktu, ia menekankan, komunikasi mereka hampir tidak pernah putus karena terus menjadi sahabat diskusi.

Jika tidak dapat bertemu atau berkunjung, komunikasi banyak dilakukan melalui WhatsApp (WA), sambungan telepon, dan media sosial. Menurut Mahfud, Nadir tidak hanya memahami peristiwa-peristiwa seputar NU dan Islam, tapi persoalan politik.

“Beliau banyak tahu tentang Indonesia, bukan hanya soal NU dan Islam dan lain-lain, tapi juga persoalan politik, masalah hukum, dan sebagainya. Karena saya sudah lama selalu berdiskusi dengan beliau. Kalau tidak ketemu begini, saling berkunjung, ya kadang-kadang kita lihat WA, saling telepon, dan sebagainya,” kata Mahfud.

Walau kepada junior, Mahfud tidak ragu menyampaikan kekaguman atas prestasi Nadir. Salah satunya sebagai akademisi yang menjadi profesor hukum konstitusi Australia. Meski berbeda, langkah Nadir mengingatkan Mahfud ke sahabatnya yang lain, AS Hikam.

“Dan bagaimana ijazah dari syariah, hukum Islam kalau di Indonesia, bisa masuk ke fakultas umum di luar negeri. Kalau di Indonesia dulu zaman itu tidak bisa, kalau syariah, hukum harus hukum, sekarang sudah bisa. Tapi, waktu zaman Gus Nadir itu agak istimewa, agak aneh, ijazahnya tarbiyah, ijazahnya syariah, tapi bisa menjadi doktor ilmu politik, macam-macam begitu, itu seperti Pak Hikam,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.