Netizen: Hidup Pak Mahfud Mungkin Lebih Tenang Kalau Diam, Kenapa Memilih Bersuara?

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (30/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (30/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengisi podcast Terus Terang Mahfud MD episode terakhir di 2025 dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan netizen. Selain tentang peristiwa-peristiwa kenegaraan, banyak pula pertanyaan-pertanyaan personal.

Salah satunya datang dari netizen dengan nama akun @RatnaKomalasari, pernahkah Mahfud merasa lelah harus terus mengingatkan soal hukum kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan. Menjawab itu, Mahfud menyatakan, tidak pernah merasa lelah.

“Saya tidak pernah merasa capek karena hanya itu yang bisa saya lakukan untuk bangsa ini,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (30/12/2025).

Mahfud menyampaikan, dirinya memiliki keahlian dan praktek di bidang hukum, serta masuk pemerintahan dan mengurusi masalah-masalah hukum selama 20 tahunan. Bahkan, lebih dari 40 tahunan jika dihitung sejak dirinya menjadi dosen perguruan tinggi.

“Saya merasa bersyukur bisa dapat itu, sehingga saya harus mengembalikan rasa syukur saya ini, saya harus kembalikan rasa syukur saya ini untuk membangun masyarakat melalui penegakan hukum,” ujar Mahfud.

Ada pula pertanyaan dari @Parjono tentang satu hal yang membuat Mahfud masih yakin kalau Indonesia belum kehilangan harapan. Bagi Mahfud, bukan hal kecil, melainkan hal besar yaitu budaya rakyat yang selalu ingin bersatu dan berbuat kebaikan.

Kedua, negara kita ini berdasar demokrasi yang memungkinkan dilakukannya perbaikan secara terus-menerus. Perputaran siklus kekuasaan berbagai bidang diyakini Mahfud terus memasukkan unsur-unsur untuk memberi kebaikan, meski belum bisa seluruhnya.

“Tidak mungkin tetap dan tidak mungkin ada kekuasaan yang abadi. Oleh sebab itu, saya tidak kehilangan harapan untuk Indonesia menjadi lebih baik. Faktanya, secara sejarah, betapa Indonesia dipimpin dengan penuh banyak korupsi tapi pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan sebagainya dari waktu ke waktu itu maju. Apalagi, kalau kita mau membangun demokrasi dan hukum secara lebih baik akan lebih maju lagi,” kata Mahfud.

Terakhir, ada pula pertanyaan dari @slametraharjo yang menilai mungkin hidup sosok seperti Mahfud akan lebih tentang jika diam saja, sehingga netizen itu menanyakan alasan Mahfud malah memilih terus bersuara. Bagi Mahfud, ada kewajiban moral.

“Ya, kewajiban moral, syukur saya kepada negara ini agar apa yang saya nikmati karena kemerdekaan negara ini bisa dinikmati oleh generasi Indonesia berikutnya tanpa waktu yang terbatas. Jangan dirusak oleh korupsi dan pemerintahan yang sewenang-wenang, hedonisme, flexing, dan sebagainya,” ujar Mahfud.

Mahfud mengungkapkan, sebenarnya setelah kontestasi Pilpres 2024 lalu, setelah dirinya menyatakan selamat kepada mereka yang mendapat amanah mengurus negara, dirinya ingin beristirahat. Apalagi, saat itu usianya sudah memasuki 67 tahun.

Dalam bayangan Mahfud, dirinya bisa lebih banyak di rumah, mengajar, membimbing disertasi atau tesis dari rumah. Tapi, ia menekankan, ternyata itu semua tidak bisa karena panggilan hati untuk tetap bersuara, sambil membagi waktu bersama keluarga.

“Kata Nabi, baiti jannati, rumahku harus menjadi surgaku. Karena apa? Karena kita menjaga kebersihan dari pelanggaran-pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat dan berlaku baik, amar ma’ruf nahi munkar itu, maka rumahmu akan menjadi surgamu meskipun sederhana, kan gitu aja,” kata Mahfud, menutup. (WS05)

Temukan kami di Google News.