Sudah 33 Kali Dalam Setahun, Sebanyak Apa Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo Selama 5 Tahun?

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (21/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (21/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Langkah Presiden Prabowo melakukan begitu banyak kunjungan luar negeri di awal pemerintahannya menuai sorotan. Apalagi, selama 12 bulan pertama dirinya berkuasa, sudah 33 kali kunjungan luar negeri ke 25 negara dilakukan oleh Presiden Prabowo.

Intelektual, Hamid Basyaib mengatakan, kalau di rata-rata hampir 3 kali per bulan kunjungan luar negeri dilakukan Prabowo. Tampaknya, ini merupakan catatan rekor tersendiri jika dibandingkan kunjungan luar negeri presiden-presiden sebelumnya.

Misalnya, jika dibandingkan dengan yang terdekat seperti Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam setahun, Jokowi melakukan 15 kali kunjungan, sedangkan SBY hanya 9 kali kunjungan luar negeri.

“Kalau setahun pertama Presiden Prabowo sudah sebanyak itu, mudah kita bayangkan berapa puluh kali lagi dia selama 5 tahun masa jabatannya nanti sampai selesai. Jadi, memang banyak sekali dan ini bisa kita catat beberapa fenomenanya,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (21/12/2025).

Pertama, ia menduga, Prabowo terobsesi sosok seperti Presiden Soekarno yang menjadi semacam tokoh global yang dimulai dari Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Kemudian, Soekarno berangkat ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden Kennedy.

Dalam semua kunjungan itu, terlihat sekali Soekarno menjadi tokoh, bukan sekadar tokoh Indonesia, tapi tokoh dari negara-negara non-blok, mewakili dunia timur, mewakili Asia-Afrika. Tampak peran itu yang mau dijalankan Prabowo di luar negeri.

“Sampai batas yang tinggi Soekarno berhasil. Kelihatan betul wibawanya jauh lampaui sekadar Presiden Indonesia. Kelihatannya, Pak Prabowo ada minat demikian juga,” ujar Hamid.

Bagi Hamid, sudah jelas Prabowo mengagumi dan mengidolakan Soekarno, dan itu bisa mudah dilihat dari gayanya berpakaian. Mulai dari memakai peci dengan baju yang khas, serta menghidupkan lagi gaya-gaya busana lama, gaya-gaya pejabat era 50an.

“Tangannya digulung dan sebagainya, itu satu kemungkinan ya, mungkin bisa salah saya. Yang kedua, tapi yang cukup jelas saya kira adalah Pak Prabowo ingin juga seperti merangkap menjadi Menteri Luar Negeri-nya sendiri,” kata Hamid.

Seperti kita tahu, dalam setahun pertama Menteri Luar Negeri di era Soekarno banyak mendapat kritik karena dirasa terlalu muda dan hampir tidak memiliki pengalaman politik luar negeri. Apalagi, seperti Soegiono, dia merupakan mantan tentara.

Namun, tentara yang dalam kepangkatan cukup rendah ketika berhenti dari ketentaraan dan memang tidak memiliki pengalaman politik luar negeri. Tapi, ternyata dia yang dipilih menjadi Menteri Luar Negeri, seolah membenarkan dugaan terkait formalitas.

“Seolah-olah mengindikasikan bahwa itu sekadar formalisme dan yang akan menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia adalah Presiden-nya sendiri merangkap. Ini yang kita belakangan kita lihat gejala itu makin mencolok, tadi 33 kunjungan ke 25 negara,” ujar Hamid. (WS05)