Gus Nadir: NU di Persimpangan Jalan, Patuh AD/ART atau Patuh Kyai

Tokoh dan akademisi Nahdlatul Ulama (NU), Nadirsyah Hosen dalam program Kita Bicara di YouTube Mahfud MD Official, Jumat (19/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh dan akademisi Nahdlatul Ulama (NU), Nadirsyah Hosen dalam program Kita Bicara di YouTube Mahfud MD Official, Jumat (19/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Konflik yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak hanya mengusik keprihatinan masyarakat di Indonesia. Warga NU maupun warga Indonesia di negara-negara lain turut mengungkap keprihatinan atas konflik berkepanjangan itu.

Tokoh dan akademisi NU, Nadirsyah Hosen melihat, apa yang terjadi membuat NU berada di persimpangan jalan. Artinya, NU kebingungan memilih ingin menjadi organisasi masyarakat keagamaan yang betul-betul modern dengan mematuhi AD/ART atau mempertahankan karakter tradisionalis.

“Tradisionalis itu artinya apa, karena otoritas itu bukan dari AD/ART, tapi dari wibawa, dari keberkahan, dan otoritas keilmuan para kyai. Kalau kemudian dipaksa menjadi modern, akan menjadi kering dari segi keberkahan, kekeramatan, segala macam,” kata Nadir kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Kita Bicara di YouTube Mahfud MD Official, Jumat (19/12/2025).

Pada saat yang sama, ia melihat, dunia pondok pesantren sudah mengalami perubahan dengan adanya media sosial, bahkan ada Artificial Intelligence (AI). Dalam kondisi itu, NU malah dilanda konflik yang membuat langkah yang harusnya berlari terhenti.

“Ndilalah, tiba-tiba ada konflik. Jadi, energi kita yang harusnya memikirkan hal-hal seperti itu tadi, akhirnya teralihkan membahas konflik internal,” ujar Nadir.

Ia melihat, semua pasti ingin islah atau permasalahan ini selesai. Masalahnya, Nadir berpendapat, bicara islah saja sudah dituding berada dalam satu kubu yang berkonflik, sehingga mungkin lebih tepat kini memakai istilah rekonsiliasi saja.

“Karena itu ya rekonsiliasi lah ya, musyawarah lah. Tapi, masalahnya mekanismenya apa? Tadi kalau kembali islah itu adalah kembali ke status quo, kembali ke 4 orang yang tidak di kotak katik, hasil Muktamar Lampung, Ketua Umum, Rais Aam, Katib Aam, dan Sekjen, semua sama posisinya, ini saya kira agak muskil,” kata Nadir.

Sayang, ia merasa, posisinya hari ini semua saling mengunci, sehingga membuat roda organisasi macet dan kuncinya ada yang menyebut berada di AD/ART. Namun, Nadir mengingatkan, jika ingin mengembalikan NU, karakter NU harus patuh kepada kyai.

Maka itu, Nadir berpendapat, NU memang berada di persimpangan jalan untuk memilih mana yang harus dipatuhi, AD/ART atau kyai. NU, lanjut Nadir, harus memilih apakah ingin kembali mengharapkan keberkahan dari AD/ART atau keberkahan dari kyai.

“Padahal, kita itu orang NU patuh pada kyai, di persimpangan jalan tadi, kita membutuhkan AD/ART sebagai organisasi modern, tapi barokahnya kan tidak di AD/ART,” ujar Nadir.

Apalagi, sebagai salah satu pimpinan sidang Muktamar Lampung, Nadir melihat, kyai-kyai jelas tidak tahu banyak tentang AD/ART dan biasanya berada di Bahtsul Masail. Sedangkan, AD/ART biasanya dipikirkan aktivis-aktivis dan itu ada di Tanfidziyah.

Mereka berada di Bahtsul Masail karena memang lebih banyak membahas permasalahan-permasalahan keagamaan, bukan program kerja yang menjadi soal-soal di Tanfidziyah. Sekalipun AD/ART ditanda tangani kyai-kyai, tapi pembuatnya tentu aktivis-aktivis.

“Karena itu, kita mau ikut yang mana? Kalau menurut saya akhirnya memang kembali kepada sejarah NU, bahwa NU itu adalah Nahdlatul Ulama, kebangkitan ulama. Jadi, memang yang keunikan NU itu di ulama. Cuma, masalahnya kan sekarang disinyalir, bukan kata saya, disinyalir sedang krisis ulama dan krisis tokoh, terbukti bahwa ternyata juga tidak ada ulama yang bisa ditaati menyatukan,” kata Nadir. (WS05)

Temukan kami di Google News.