Kebiasaan sehari-hari yang tidak sehat dapat munculkan efek kumulatif mempengaruhi tingkat energi hingga kesuburan. Bahkan, secara diam-diam mengganggu keseimbangan, memengaruhi kesehatan reproduksi jauh sebelum gejala yang terlihat muncul.
“Menurut WHO, 1 dari 6 pasangan di seluruh dunia mengalami infertilitas (gangguan kesuburan). Kesuburan bergantung pada keseimbangan hormon yang stabil, organ yang sehat, dan rutinitas yang teratur yang mendukung ritme alami tubuh,” kata dokter spesialis kesuburan dan kesehatan wanita, Snehal, dikutip Selasa (16/12/2025).
Di antara pola hidup yang tidak sehat adalah tidur yang tidak teratur dapat memengaruhi hormon yang bertanggung jawab atas kesehatan reproduksi pria dan wanita. Snehal mengatakan, ketika kurang tidur, kualitas sperma juga menurun.
Ketika kurang tidur atau tidur tidak teratur, otak menghasilkan kadar hormon yang lebih rendah yang mendukung ovulasi dan perkembangan sperma. Tidur kurang dari 6 jam dikaitkan dengan peningkatan hingga 30 persen pada ketidakteraturan menstruasi.
“Pria dengan kualitas tidur yang buruk memiliki konsentrasi sperma 25-35 persen lebih rendah,” ujar Snehal.
Ia menyarankan, mereka yang bekerja shift malam atau banyak memakai layar di malam hari berhati-hati karena kebiasaan ini dapat memberi tekanan tambahan pada sistem reproduksi. Kebiasaan makan juga memiliki peran menjaga kesehatan reproduksi.
Menurut Snehal, diet rendah makanan segar dan tinggi makanan olahan dapat berdampak negatif pada kualitas sel telur dan sperma. Yang mana, secara bertahap mengganggu keseimbangan hormon yang dibutuhkan untuk kesuburan.
Sebaliknya, ia menyarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan biji-bijian utuh, buah-buahan, sayuran, protein, dan lemak sehat secara teratur. Ini dapat membantu mengurangi angka kesuburan sebesar 10–15 persen.
Stres dapat memengaruhi hormon reproduksi turun. Wanita dengan tingkat stres tinggi miliki risiko 2 kali lipat alami menstruasi tidak teratur. Pada pria, stres kronis dapat mengurangi testosteron dan menyebabkan penurunan jumlah sperma 20-30 persen.
Selain itu, pentingnya bergerak karena duduk terlalu lama dapat berdampak negatif organ reproduksi dan mengurangi peluang keberhasilan dalam kesuburan. Penurunan aliran darah ke organ reproduksi menyebabkan penambahan berat badan di area perut.
“Baik pria maupun wanita mendapat manfaat dari aktivitas sedang (150 menit per pekan) seperti jalan cepat, bersepeda, atau yoga,” kata Snehal.
Snehal juga mencatat, duduk lebih dari 5 jam per hari dikaitkan dengan penurunan motilitas sperma. Kebiasaan buruk lainnya yang bisa menurunkan kesuburan adalah alkohol, tembakau dan kafein. Menurut dokter, alkohol memengaruhi hati.
Hati memiliki pengaruh signifikan pengaturan hormon. Konsumsi alkohol berlebihan mengurangi kesuburan 18 persen. Tembakau memengaruhi aliran darah dan merusak sel telur dan sperma. Pria perokok memiliki jumlah sperma 10–17 persen lebih rendah.
Selain itu, fragmentasi DNA lebih tinggi pada pria perokok. Kopi juga dapat mengganggu keseimbangan hormon. Mengonsumsi lebih dari 300 mg kafein/hari (2–3 cangkir) dapat menunda pembuahan. Bagi perempuan, risikonya malah lebih besar.
Sehingga, sangat penting untuk mengurangi kebiasaan seperti merokok. Perempuan yang merokok memiliki risiko infertilitas dua kali lebih besar. Mengurangi konsumsi zat-zat tersebut dapat menghasilkan perbaikan yang nyata.
“Siklus menstruasi yang lebih sehat dan parameter sperma yang lebih baik dapat terlihat dalam waktu 8-12 pekan,” ujar Snehal. (Antara/WS05)
