Target 5,5 Persen Menkeu Purbaya di Kuartal IV Dirasa Sulit Terwujud

Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (12/11/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (12/11/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom, Halim Alamsyah menilai, masih banyak masalah-masalah struktural yang harus kita hadapi dan harus kita atasi dalam perekonomian. Misalnya, penciptaan tenaga kerja yang baru diserap sektor-sektor hampir informal.

“Memang ada penciptaan ternyata kerja, tapi ternyata kerja itu diserap oleh sektor-sektor yang hampir informal, bahkan yang mungkin yang tidak mendapatkan tunjangan yang tetap. Ini boleh dibilang sektor informal dan sektor-sektor yang tidak bisa memberikan tunjangan atau gaji yang tetap,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di YouTube Terus Terang Media, Rabu (12/11/2025).

Halim menerangkan, pekerjaan-pekerjaan ini banyak diterima karena sudah tidak ada lagi kesempatan kerja di tempat lain. Disebut pula sebagai low quality job. Kondisi itu ditambah pertumbuhan tingkat upah yang rendah.

Angkanya tidak sampai 2 persen, hanya 1,9 persen atau Rp 3,3 juta per bulan. Ini cukup menjelaskan konsumsi rumah tangga 4,89 persen. Padahal, diharap di atas 5 persen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Jika kuartal I kita hanya 4,89, kuartal II hanya 5,12, lalu kuartal III hanya 5,04, kuartal IV rata-rata pasti di bawah 5 persen. Semantara, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, bisa tumbuh 5,5 persen.

“Saya tidak tahu apakah bisa sampai 5,5 persen, saya rasa berat sekali, yang disampaikan oleh Menteri Keuangan bahwa dia ingin tumbuh di kuartal IV ini menjadi 5,5 atau katakanlah 5,4 persen saya rasa sulit sekali,” ujar Halim.

Dengan masalah-masalah struktural yang tentu saja tidak bisa diselesaikan 1-2 bulan, cukup mudah membaca kalau target itu sulit terwujud. Apalagi, praktis tersisa beberapa bulan saja sebenarnya untuk mewujudkan target.

Padahal, Halim menekankan, kita masih memiliki masalah yang besar dalam menunjang konsumsi kita supaya tumbuh lebih cepat. Karenanya, target itu jelas sulit jika kita hanya berharap dari Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Istilahnya kan cuma menerima dari pemerintah, pasif, tidak ada kegiatan nilai tambah apapun di situ. Jadi, agak sulit kita membayangkan kuartal IV ini nanti konsumsinya akan naik tinggi sekali, saya rasa berat. Kedua, susah kalau berharap investasi, coba lihat kembali masalah investasi,” kata Halim.

Memang, lanjut Halim, investasi kita tumbuh 7 persen di kuartal II, dan yang paling tinggi beberapa tahun terakhir. Lalu, di kuartal III masih bisa tumbuh 5 persen. Tapi, itu berasal dari mesin dan perlengkapan.

Dari data-data terakhir yang kita tahu, ternyata ini terkait dengan impor alutsista. Artinya, Halim menekankan, kategori impor alutsista ini sudah pasti kegiatan-kegiatan yang nilai tambahnya tidak berada di Indonesia.

“Kuartal III kita lihat mesin dan perlengkapan sudah melambat, walaupun masih cukup tinggi 17 persen. Jadi, ini ceritanya masih tentang impor alutsista barangkali. Artinya, apakah bisa akan memproduksi barang-barang dan jasa di Indonesia lebih lanjut, kalau untuk militer tentu produsinya keamanan, bukan produksi barang-barang untuk konsumsi,” ujar Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.