Pengamat kebijakan publik, Haidar Alwi menilai, tingkat kepercayaan masyarakat yang rapuh atas Polri masih jadi pekerjaan rumah besar bagi Polri. Jadi, peningkatan-peningkatan efektivitas institusi Polri menjadi paradoks terhadap persepsi publik.
“Sebuah paradoks yang menunjukkan betapa persepsi publik sering tertinggal dari realita faktual,” kata Haidar, Rabu (15/10/2025).
Pendiri Haidar Alwi Institute mengatakan, sebagian besar masyarakat masih melihat Polri melalui kacamata masa lalu, dan terlalu cepat menilai karena ada kasus viral. Namun, ia menilai, ada ribuan kinerja senyap anggota Polri lainnya yang juga baik.
Menurut Haidar, terjadi kesenjangan persepsi yang sebagian diduga dipicu ekosistem informasi yang bias dan sensasional. Saat ini, ia melihat, satu kesalahan anggota saja sudah bisa menghancurkan reputasi institusi Polri secara keseluruhan.
Padahal, kinerja Polri yang baik adalah capaian yang dapat diukur, dan kepercayaan publik adalah refleksi subjektif. Jika masyarakat terus menilai Polri atas citra dari distorsi informasi, maka institusi itu akan terus dihukum karena kesalahannya.
“Kini, giliran masyarakat untuk beralih dari keraguan menuju pengakuan. Sebab, kepercayaan tidak akan tumbuh bila hanya satu pihak yang bekerja keras membangunnya,” ujar Haidar. (Antara/WS05)
