Saat Sujiwo Tejo Minta Mahfud MD Bedah Makna Sebuah Ayat dari Surat Ali Imran

Budayawan, Sujiwo Tejo, saat menjadi tamu di program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Budayawan, Sujiwo Tejo, saat menjadi tamu di program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Budayawan, Sujiwo Tejo, mengungkapkan rasa penasaran tentang batil dan munkar dalam kitab suci Al Qur’an. Saat bertemu pakar hukum tata negara, Mahfud MD, Sujiwo turut melantunkan salah satu ayat dari Surat Ali Imron dan menanyakan makna sebenarnya.

“Aku sekarang boleh tanya ke Pak Mahfud, tentang batil. Banyak kyai yang bilang, yang bisa kita selesaikan itu hanya yang munkar, kalau yang batil itu urusannya Tuhan. Tapi, di Ali Imran 191, ternyata Tuhan mengatakan tak ada yang batil. Jadi, bagaimana saya harus menafsirkan,” kata Sujiwo kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (11/10/2025).

Sujiwo mengaku benar-benar penasaran, bukan menguji. Ini diakui sudah ditanyakan ke tokoh-tokoh lain seperti Kyai Ubaidillah Shodaqoh di Semarang, Kyai Imron Jamil di Jombang, (alm) Kyai Dimyati Rois di Kendal, atau (alm) Buya Syakur di Indramayu.

“Bagaimana, betul tidak kalau yang boleh kita perbaiki hanya kemunkaran, itupun dengan amar ma’ruf, tapi yang batil itu sudah urusan-Nya, kita sudah tidak bisa. Tapi, kenapa ada ayat ini, hai manusia tidak ada yang aku ciptakan ini yang batil,” ujar Sujiwo.

Menjawab itu, Mahfud mengingatkan, itu sebenarnya memiliki konteks karena ada ayat sebelumnya yang seharusnya tidak dipisah. Ia menyampaikan, ayat itu sebenarnya menerangkan tentang orang ulul albab, orang yang menggunakan akal dan hati.

Jadi, konteks ayat itu dalam rangka membangun keimanan. Lalu, sambungan dari ayat yang dibaca Mahfud sebenarnya ayat yang sudah dibaca Sujiwo tadi. Menurut Mahfud, ayat itu menerangkan tentang siapa sebenarnya orang-orang yang disebut ulul albab.

“Siapa itu ulul albab, ini tadi yang dibaca. Jadi, orang ulul albab itu yang selalu berzikir dan berpikir. Itu kalau dipikir terus kita akan, Ya Tuhan, Engkau menciptakan ini tidak sia-sia (kata yang dimaknai batil oleh Sujiwo), menambah keimanan kami bahwa Engkau benar, Engkau ada, Engkau berkuasa,” kata Mahfud.

Mahfud menjelaskan, kata ‘batila’ tidak melulu harus dimaknai sebagai kebatilan. Sebab, batila dapat pula dimaknai sebagai kejelekan, dapat pula dimaknai sebagai sia-sia, dan lain-lain. Jadi, pasti ada tingkatan dalam memaknai ayat-ayat itu.

Dalam konteks ini, ia menekankan, batila dimaksudkan sebagai sia-sia dan secara lengkap ayat itu bisa dimaknai tidak ada di dunia yang Tuhan ciptatakan sia-sia. Sujiwo mengaku bingung karena ulama-ulama lain hanya menafisrkannya sebagai batil.

Sujiwo turut merefleksikan ayat itu untuk menilai apa yang terjadi di Indonesia seperti masalah-masalah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bagi Sujiwo, jika ayat itu bermakna munkar, maka ada kewajiban kita memperbaiki lewat amar ma’ruf.

Namun, jika itu dimaknai batil, seperti yang disebut ulama-ulama lain, maka tidak ada yang bisa dilakukan karena selain menyerahkannya ke Tuhan. Mahfud mengingatkan, dalam sebuah bahasa memang ada satu kata yang memiliki banyak makna, atau sebaliknya.

“Memang di dalam bahasa itu, bukan hanya Bahasa Arab, ada satu kata itu mempunyai banyak makna, ada kata yang berbeda tapi mempunyai satu makna. Ya seperti jalan, kalau dalam Bahasa Indonesia jalan, dalam Bahasa Arab ada toriq, ada sirah, ada sabil, itu jalan semua artinya, tapi beda konteks, sama dengan ini,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.