Psikolog, Patricia Melati Rosari mengatakan, penting bagi individu untuk mengenali tanda-tanda ketika mental membutuhkan istirahat. Ia menyebutkan, setidaknya ada tiga tanda-tanda utama yang berkaitan dengan pikiran, emosi, dan perilaku.
“Kalau mengerjakan tugas kampus atau pekerjaan yang seharusnya selesai 30 menit, tapi jadi molor karena tidak bisa fokus itu sudah menjadi tanda awal sebelum masuk ke fase stres yang lebih berat,” kata Patricia dalam sebuah diskusi di Sleman, Minggu (12/10/2025).
Tanda kedua, lanjut dia, adalah perubahan emosi yang menjadi lebih sensitif, seperti mudah tersinggung atau marah karena hal-hal kecil. Misalnya, ketika kita ditanya sudah mengumpulkan tugas atau belum, tapi malah langsung merasa kesal.
Menurut Patricia, itu perlu disadari sebagai sinyal bahwa tubuh dan pikiran kita butuh jeda. Tanda ketiga, Patricia menerangkan, adalah perubahan pola aktivitas sehari-hari, terutama terhadap pola tidur dan pola makan.
“Biasanya tidur jam 9 malam, tapi sekarang jam 11 masih terjaga menatap langit-langit, atau pola makan yang berubah drastis. Itu tanda yang perlu diperhatikan,” ujar Patricia.
Menurut Patricia, tanda-tanda itu merupakan bentuk deteksi dini agar seseorang tidak sampai mengalami kelelahan mental yang lebih berat. Ia menilai, dukungan dari orang sekitar berperan penting, meski kesadaran diri tetap menjadi faktor utama.
Patricia menekankan, menerima emosi negatif merupakan bagian normal dari kehidupan.
Sebab, ia mengingatkan, manusia dikaruniai berbagai perasaan, sehingga wajar bila sesekali merasakan sedih, marah, atau kecewa karena tidak hanya rasa-rasa bahagia.
“Yang menjadi masalah adalah bagaimana orang lain merespons perasaan kita. Kadang, kita takut kalau mengungkap perasaan sedih atau stres kaena akan dianggap lemah,” kata Patricia.
Sayangnya, stigma negatif terhadap kesehatan mental di Indonesia masih cukup kuat, sehingga banyak orang enggan mengakui perasaan negatifnya. Ia melihat, sering kali kalau ada yang mengaku capek atau sedih malah dianggap lebay atau kurang bersyukur.
“Padahal, setiap orang mempunyai kapasitas yang berbeda dalam menghadapi masalah,” ujar Patricia.
Ia menegaskan, menerima dan menyadari emosi negatif bukan tanda kelemahan, tapi justru bagian dari proses mengenali diri sendiri secara utuh. Sebab, kita tidak mungkin hanya mempunyai hal-hal yang baik dalam diri kita.
“Selama hidup akan selalu ada stres, dan itu adalah proses untuk menjadi individu yang lebih baik,” kata Patricia. (Antara/WS05)
