Cedera sampai Kematian, Dokter Ingatkan Bahaya Lari Jarak Jauh Tanpa Persiapan

(ilustrasi) Warga Jakarta sedang melakukan aktivitas jogging dan lari pagi di Lapangan Banteng. Foto: Faisawqi Dival Sya'ban
(ilustrasi) Warga Jakarta sedang melakukan aktivitas jogging dan lari pagi di Lapangan Banteng. Foto: Faisawqi Dival Sya'ban

Tren ‘pelari kalcer’ populer di warga ibu kota beberapa waktu terakhir. Merupakan tren yang menjadikan olahraga lari sebagai bagian gaya hidup dan identitas diri, tapi fokus ke penampilan dan perlengkapan penuh gaya, serta aktif di media sosial.

Istilah ‘pelari kalcer’ sendiri merupakan plesetan dari kata culture yang berarti budaya. Mengacu ke gaya hidup mengikuti tren terkini dan budaya pop, termasuk tren lari. Namun, berolahraga lari tanpa persiapan sebenarnya menyimpan banyak risiko.

Dokter dan salah satu spesialis kedokteran olahraga legendaris Indonesia, (alm)Michael Triangto pernah menyampaikan, olahraga lari memang memiliki beberapa risiko. Mulai dari risiko yang ringan hingga yang paling parah adalah kematian.

“Dalam perkembangan fenomena olahraga lari ini juga terdapat berbagai kasus ringan seperti cedera, terkilir, overused injury, dehidrasi, hingga yang berat seperti pingsan, bahkan meninggal,” kata Michael, dikutip Sabtu (11/10/2025).

Kasus risiko berat jadi puncak gunung es karena banyak insiden pingsan dan kematian akibat olahraga lari yang tidak terlaporkan. Dalam catatan sejarah, maraton sendiri berawal dari Pheidippides, seorang prajurit Yunani yang berlari 42.195 kilometer ke Athena untuk memberitahu kemenangan perang di maraton yang berakhir kematiannya.

“Mengingatkan kita kalau berlari sejauh itu dapat berakibat fatal bila tidak memiliki kesiapan fisik yang prima,” ujar Michael.

Untuk itu, ia mengingatkan, peran serta dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Lalu, menekan gangguan kesehatan dan tetap menjaga tren positif dari olahraga lari yang hingga saat ini makin digemari.

Michael turut memberi saran untuk masyarakat yang ingin mengikuti perlombaan lari agar mengikuti secara bertahap. Mulai kelas 5 kilometer, 10 kilometer, dan separuh maraton. Pelari juga harus memeriksakan kesehatan dan kebugaran secara teratur.

“Dinyatakan dalam sertifikat kesehatan untuk lari dalam tingkatan sesuai kemampuan masing-masing. Dengan demikian, diharap tidak akan ada pemula yang dapat langsung mengikuti lomba maraton tanpa melalui 5 km, 10 km, half marathon terlebih dulu,” kata Michael.

Setelah cek kesehatan, pelari disarankan untuk mengatasi masalah kesehatan pada dirinya bila memang terbukti ditemukan suatu penyakit. Ia menilai, olahraga lari tentu sangat baik untuk kesehatan dan kebugaran. Namun, perlu diketahui bahwa ada pula risiko-risiko yang mungkin terjadi bila tidak dilakukan secara tepat.

Dari sudut kedokteran olahraga, Michael melihat peningkatan minat masyarakat dalam berolahraga lari merupakan kabar baik yang diharap mampu tingkatkan taraf kesehatan masyarakat. Serta, dapat mengurangi terjadinya penyakit-penyakit tidak menular.

“Seperti obesitas, diabetes melitus, hipertensi, kolesterol darah tinggi dan penyakit-penyakit lainnya, bilamana kita mampu mengantisipasi hal–hal negatif yang mungkin terjadi,” ujar Michael. (Antara/WS05)

Temukan kami di Google News.