Awas! Ada Risiko Jantung Terkait Lari Maraton

(ilustrasi) Masyarakat yang mengikuti Justisia Half Marathon 2025 di Plaza Barat GBK Senayan, Minggu (05/10/2025). Foto: Wahyuningrat
(ilustrasi) Masyarakat yang mengikuti Justisia Half Marathon 2025 di Plaza Barat GBK Senayan, Minggu (05/10/2025). Foto: Wahyuningrat

Serangkaian kematian jantung mendadak yang terjadi pada pelari maraton telah menarik perhatian dunia. Berbagai kejadian turut menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan lari jarak jauh, terutama setelah maraton jadi tren di kalangan pemula.

Laporan National Library of Medicine, sebagian besar kematian disebabkan penyakit arteri koroner yang mendasarinya. Kemudian, nilai skrining pra-partisipasi dibatasi oleh ketidakpekaan dan ketidakpraktisannya dalam penerapan yang lebih luas.

Persiapan, sekaligus penempatan tenaga medis terlatih yang tepat dan ketersediaan defibrilator eksternal otomatis diperkirakan akan berdampak besar. Terutama, pada tingkat kelangsungan hidup dari henti jantung yang mungkin dialami saat maraton.

“Kelainan biokimia dan fungsional jantung umumnya diamati sesaat setelah selesainya maraton, meskipun signifikansi klinisnya belum diketahui,” tulis laporan tersebut, dikutip Jumat (10/10/2025).

Meski begitu, kematian jantung mendadak yang berkaitan maraton disebut merupakan kejadian yang sangat jarang. Terutama, jika pencegahan bisa fokus pengenalan dan investigasi gejala prodromal, akses ke defibrilasi cepat dan tenaga medis terlatih.

Hubungan yang kuat antara ketahanan lari dengan peningkatan kualitas hidup dan umur panjang menggarisbawahi pentingnya menempatkan risiko dalam perspektif sama dengan manfaat kesehatan lain. Yang mana, terbukti dari olahraga berat secara teratur.

Bagi atlet muda (12-35 tahun) yang berpartisipasi dalam olahraga kompetitif, total risiko relatif kematian jantung mendadak 2,5 kali lebih tinggi daripada nonatlet. Peningkatan risiko dalam penelitian ini tidak terbatas pada risiko selama olahraga.

Namun, tingkat kejadian masih 1 per 50.000-200.000 per tahun. Sebanyak 23,43 persen kematian jantung mendadak pada atlet paling sering terjadi selama atau usai atihan atau kompetisi intensif. Di AS, penyebab paling umum kardiomiopati hipertrofik.

“Mayoritas atlet yang menderita kematian jantung mendadak adalah laki-laki (90%),” tulis penelitian tersebut.

Olahraga tertentu menimbulkan risiko lebih tinggi dari yang lain seperti basket, baseball, football, atletik lintasan dan lapangan. Namun, masih sulit mencocokkan apakah jumlah lebih tinggi ini dipengaruhi pula popularitas olahraga itu di AS. (WS05)