Setelah Dukungan Dunia, Pasukan Penjaga Perdamaian Bisa Jadi Solusi Lanjutan Hentikan Genosida di Gaza

Pengamat hubungan internasional dari UI, Agung Nurwijoyo, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (26/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pengamat hubungan internasional dari UI, Agung Nurwijoyo, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (26/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pengamat hubungan internasional dari UI, Agung Nurwijoyo mengingatkan, dukungan dari negara-negara PBB untuk Palestina tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada tindakan lanjutan nyata. Ia menilai, kita bisa berkaca dari Deklarasi New York.

Dalam Deklarasi New York itu yang kemudian lahir Majelis Umum PBB yang disahkan sebelum pertemuan UNGA, solusi dua negara, sampai rekonstruksi. Selain itu, Agung menekankan, ada satu poin bagus lain yaitu tentang Pasukan Penjaga Perdamaian.

“Satu hal yang ingin saya garis bawahi, satu poin yang ada di Deklarasi New York itu adanya temporary stabilization mission. Artinya, kalau dalam tafsiran saya itu mirip seperti Pasukan Penjaga Perdamaian,” kata Agung kepada terusterang.id yang ditayangkan dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Jumat (26/09/2025).

Permasalahannya, Agung menyampaikan, selama ini memang tidak pernah ada semacam Pasukan Penjaga Perdamaian yang mengawal konflik di Israel-Palestina. Kesulitannya, dalam sisi formal itu baru bisa diterjunkan atas perintah Dewan Keamanan PBB.

Kemudian, dalam konteks di Deklarasi New York poinnya jelas temporary stabilization mission itu baru bisa ditempatkan kalau ada permintaan dari Palestine Authority. Sekarang, ia menekankan, pengakuan dari mayoritas negara-negara PBB sudah ada.

“Sebenarnya, Palestine Authority sebagai pihak yang memang legitimate di Palestina mendeklarasikan kemerdekaan, lalu kemudian dia minta negara yang mendukung untuk memberikan security guarantee, saya pikir ruangnya ada di situ,” ujar Agung.

Menurut Agung, saat ini Palestina sangat bisa mendeklarasikan kemerdekaan karena pengakuan dari negara-negara dunia sudah sangat banyak. Contoh, saat Yugoslavia pecah, muncul deklarasi-deklarasi kemerdekaan dari Serbia, Slovenia, dan Kroasia.

Agung berpendapat, proses kemerdekaan dari negara-negara itu bisa jauh lebih cepat karena masing-masing sudah berdaulat. Bahkan, ada pihak-pihak yang pada akhirnya meminta bantuan dari luar dalam konteks menghadirkan Pasukan Penjaga perdamaian.

“Ada satu entitas yang bernama Palestine Authority yang dianggap mewakili Palestina itu sendiri. Artinya, sekarang ini tinggal faktor political will. Tapi, kita tidak bisa berharap, semuanya harus punya peran masing-masing, dunia internasional harus semakin aktif, Palestina juga, kita sama-sama struggle untukmenghentikan genosida,” kata Agung.

Agung sendiri turut menyambut baik aksi dukungan negara-negara dunia di PBB untuk kemerdekaan Palestina. Tapi, ia mengingatkan, Israel memiliki kecencerungan perang tiada akhir, dan buktinya Israel masih terus melakukan operasi militer di Gaza.

Berkaca kasus aparteid di Afrika Selatan, pergerakan PBB perlu diikuti langkah embargo, pemberian sanksi, sampai pemutusan hubungan diplomatik terhadap Afsel. Faktanya, minim negara-negara yang memutus hubungan diplomatik dengan Israel.

“Hanya mulai kelihatan Spanyol, bahkan Spanyol tidak sekadar embargo dalam konteks pertahanan, tidak dalam konteks politik, kemudian olahraga, bahkan UEFA mau votting melarang Israel keikutsertaan dalam berbagai macam forum,” ujar Agung. (WS05)

Temukan kami di Google News.