Kemanusiaan, Dukung Palestina Merdeka tak Perlu Hubungkan ke Atribusi Agama

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu 924/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu 924/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, mengingatkan, perjuangan memerdekakan Palestina belum selesai. Pengakuan banyak negara-negara di PBB belum melepaskan mereka dari penjajahan Israel yang masih berlangsung hari ini.

Menurut Islah, sepanjang mereka tidak diberi keleluasaan menjaga teritorial sendiri yang dianggap negara Palestina, maka semua hanya simbolis dan retorika. Karenanya, kita harus menuntut negara-negara besar itu, terutama yang memiliki veto di PBB.

“Bahwa Palestina harus diakui sebagai negara dengan status anggota penuh dan punya hak suara dalam PBB. Rakyat Palestina juga punya kedaulatan penuh atas wilayahnya sendiri. Jika tidak, semua ini omong kosong belaka,” kata Islah ke terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (24/09/2025).

Padahal, invasi dari Israel masih terus berlanjut. Tapi, ia mengingatkan, setiap kekuasaan politik di dunia selalu ada masanya dan suatu saat nanti akan terjadi pergeseran bahwa peradaban manusia, sesuai dengan eranya, akan bergeser perlahan.

Hari ini, geopolitik global dipegang negara-negara seperti AS, Rusia, Israel, dan Eropa. Tapi, Islah meyakini, suatu saat semua ini akan berganti tergantung dari manusianya, apa kita mau berubah untuk tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

“Moralitas juga menentukan arah dari peradaban manusia. Selama peradaban manusia dipegang manusia-manusia brutal yang tidak mau menghargai kemanusiaan, peradaban manusia akan jadi cacat dan tidak akan bisa menentukan arah peradaban manusia ke arah yang lebih baik,” ujar Islah.

Jangan sampai konflik Israel-Palestina terbawa ke atribusi-atribusi agama karena ini persoalan politik. Sebab, genosida terhadap bangsa Palestina juga menggunakan atribusi agama yang dilakukan Israel berdasarkan keyakinan terhadap kitab sucinya.

Islah mengingatkan, penggunaan atribusi-atribusi agama dalam berbagai kejahatan politik tidak boleh dilakukan. Sebab, jika itu dibiarkan atau dibenarkan nantinya yang akan terjadi berbagai tindak kejahatan yang malah dibenarkan atas nama agama.

“Tidak boleh ada pembunuhan-pembunuhan, terutama pembunuhan massal dengan menggunakan pembenaran ayat-ayat suci atau keyakinan-keyakinan dogmatis apapun, tidak boleh. Kita mendukung Palestina sebagai negara merdeka karena persoalan kemanusiaan,” kata Islah.

Sebab, ia menekankan, kita semua tidak mau ada manusia-manusia lain yang ditindas oleh kelompok manusia lainnya. Artinya, dukungan kita kepada Palestina bukan karena faktor agama atau faktor primordial lainnya, tapi lebih kepada alasan kemanusiaan.

Maka itu, Islah mengajak segenap masyarakat Indonesia terus mendukung kemerdekaan Palestina dan kedigdayaan kedaulatan bangsa Palestina. Menurut Islah, itu semua bisa diberikan tanpa harus menghubungkan dengan atribusi keimanan dan sebagainya.

“Karena, bagaimanapun al insaniyah qobla al tadayyun, kemanusiaan jauh lebih penting daripada persoalan-persoalan keimanan,” ujar Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.