Film animasi pendek mahasiswa ST-MMTC Yogyakarta, Aditistya, mendadak viral. Film animasi berjudul ‘Ikan Mas Tur Dedari’ yang dibagikan lewat Instagram dan TikTok itu sukses menuai pujian warganet lewat kualitas visual memukau dan sangat detail.
Adhis fokus pada animasi 2D dan 3D dengan kurikulum yang menekankan kreativitas, inovasi, dan etika profesi. Ini merupakan proyek tugas akhir yang diproduksi dengan rumit, melibatkan ribuan frame yang digambar, di-render, dan disusun cermat.
Proses produksi menghadapi tantangan seperti trial and error, revisi berulang, dan kelelahan. Namun, semua terbayar respons positif warganet yang memuji detail visual sampai berharap karya ini diikutsertakan dalam festival film animasi internasional.
Cuplikan ‘Ikan Mas Tur Dedari’ viral di TikTok dan Instagram berkat visual memukai, serta kedalaman cerita yang begitu dekat dengan Indonesia. Film animasi tersebut mencerminkan kekayaan budaya Bali dan Yogyakarta sebagai pusat seni Indonesia.
Dosen ST-MMTC Yogyakarta, Eko Wahyuanto menilai, kurangnya insentif produksi film animasi dari pemerintah dan perbankan, termasuk infrastruktur berupa studio modern, fasilitas pengeditan, dan alat canggih akan menghambat karya berkualitas lahir.
Belum lagi ancaman persaingan global dari animasi Jepang dan Barat. Faktor lain ada stigma animasi lokal hanya untuk anak-anak, sehingga membatasi penonton dan membuat pendapatan tidak stabil karena penayangannya bergantung kepada libur sekolah.
“Apalagi, distribusi film animasi ke bioskop atau streaming sering terhambat. Banyak animator berbakat migrasi ke luar negeri seperti Malaysia, Jepang, atau Hollywood untuk karir dan gaji lebih baik, melemahkan industri lokal, meski di lain sisi menunjukkan kualitas SDM Indonesia di tingkat global,” kata Eko, Minggu (21/09/2025).
Ke depan, ia mengingatkan, film animasi 3D akan mendominasi serta didukung AI, VR, dan AR. Studio seperti Visinema Pictures dan MSV Pictures akan menghasilkan karya berkualitas, mengikuti kayar hebat lain seperti ‘Jumbo’ dan ‘Battle of Surabaya’.
Kolaborasi dengan studio internasional dan perusahaan teknologi lokal seperti Telkom atau Nodeflux akan jadi titik temu masalah. Kerja sama lintas negara harus dilakukan guna meningkatkan skala, seperti rencana pemutaran ‘Jumbo’ di 32 negara
Ia menilai, pemerintah via Komdigi perlu memfasilitasi insentif dan infrastruktur untuk perkembangan industri ini. Berbagai program-program pendidikan seperti di ST-MMTC, AMIKOM, atau UNESA Magetan yang cetak alumni bertalenta harus terus didukung.
Eko menambahkan, inisiatif Making Indonesia 4.0 dapat didorong untuk integrasi AI dalam film animasi. Film animasi seperti ‘Jumbo’ dan ‘Ikan Mas Tur Dedari’ telah menggeser persepsi dan menunjukkan animasi lokal memang relevan untuk semua usia.
“Maka, perlu kampanye promosi agresif untuk memperluas basis penonton domestik dan internasional, termasuk melalui diversifikasi media dan konten,” ujar Eko. (Antara/WS05)
