Mahfud MD Ingatkan Indonesia Satu-satunya Bangsa di Dunia yang Merdeka karena Bersatu

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam webinar bertajuk Mengokohkan Semangat Nasionalisme dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045 yang digelar Kanwil DJP Sumbarja, Kemenkeu Sumbar, Selasa (26/08/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam webinar bertajuk Mengokohkan Semangat Nasionalisme dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045 yang digelar Kanwil DJP Sumbarja, Kemenkeu Sumbar, Selasa (26/08/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengingatkan, kemerdekaan yang dicapai bangsa Indonesia bukan merupakan hadiah dari penjajah seperti negara-negara lain. Bahkan, ia menegaskan, Indonesia merupakan satu-satunya bangsa di dunia yang mampu merebut kemerdekaannya karena bersatu melawan penjajah.

“Indonesia itu satu-satunya, satu-satunya bangsa di dunia yang ada sekarang yang merebut kemerdekaan karena bersatu membangun bangsa dengan geopolitik jelas, kita bukan mendapat hadiah kemerdekaan melainkan merebut dan mempertahankan melalui revolusi 1945,” kata Mahfud dalam webinar yang digelar Kanwil DJP Sumbarja, Kemenkeu Sumbar, Selasa (26/08/2025).

Mahfud memberikan contoh negara-negara tetangga dengan sejarah kemerdekaannya. Misal, Australia yang mengusir bangsa aslinya Aborigin, Malaysia yang mendapat hadiah kemerdekaan dari Inggris, atau India yang tanpa diberikan hadiah oleh Inggris tentu tidak akan merdeka, meski sudah lama berperang.

Indonesia semula ingin diberi hadiah oleh Pemerintah Jepang. Pada 9-12 Agustus 1945, penguasa militer tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara, Marsekal Terauchi, memanggil Soekarno, Hatta, dan Radjiman ke Dallat untuk dijanjikan kemerdekaan. Pada 13 Agustus, Jepang menyerah setelah dibom atom Sekutu.

Setelah itu, Soekarno-Hatta didesak kaum muda, antara lain Soebadio dan Soebianto (paman Presiden Prabowo), agar Indonesia segera mengumumkan kemerdekaan. Soekarno dan Hatta menolak karena mereka sudah memegang janji dari Pemerintah Jepang kalau kemerdekaan diberikan begitu kita siap.

“Kata pemuda, tidak bisa menunggu kemerdekaan dari Jepang karena ada aturan internasional dari Konvensi Wina, negara jajahan yang penjajahnya kalah perang, harus membuat status quo dan menyerahkan negara jajajahan ke penjajah sebelumnya,” ujar Mahfud.

Malamnya, Soekarno dan Hatta digeruduk dan diancam kalau tidak segera merdeka ada pertumpahan darah dan kaum muda revolusi di Batavia. Pada akhirnya, Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok, diminta untuk membaca proklamasi, menyanyikan Indonesia Raya, dan menaikkan bendera Merah Putih.

Sepulang dari Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta menceritakan itu dan menyebut kemerdekaan yang diucapkan tidak sah karena hanya didengarkan beberapa orang. Tapi, Soekarno kala itu menekankan, mereka berdua setuju dengan kekhawatiran kaum muda dan Indonesia harus segera merdeka.

Timbul masalah karena Pemerintah Jepang melalui Jenderal Hitoshi Imamura menyatakan Indonesia tidak boleh merdeka karena akan diserahkan ke Belanda sebagai penjajah sebelumnya. Bahkan, ketika akan mengumpulkan tokoh-tokoh PPKI di Hotel Des Indes, dilarang oleh pemilik atas perintah Imamura.

Sampai akhirnya, ada seorang Jepang bernama Laksamana Tadashi Maeda, semacam Dandim atau penguasa kota, menawarkan rumahnya sebagai tempat pertemuan tokoh-tokoh PPKI. Mulai jam 11 malam (16 Agustus) sampai jam 3 pagi (17 Agustus) itulah tokoh-tokoh merumuskan Proklamasi untuk dibaca.

“Jadi, beda, beda dengan negara lain, negara lain itu karena hadiah, negara lain karena mengusir, Amerika Serikat mengusir Indian, Ausralia mengusir Aborigin, kita melindungi 1.360 suku,” kata Mahfud. (WS05)