Banyak Masalah, Mahfud MD Tetap Yakin Indonesia Emas 2045 Terwujud

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (31/03/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (31/03/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, memaparkan masalah-masalah yang sedang dihadapi Indonesia hari ini. Menurut Mahfud, masalah-masalah ini harus bisa diselesaikan untuk mewujudkan cita-cita luhur Indonesia Emas 2045 yang sebenarnya sudah tidak lama lagi karena berjarak 20 tahun saja dari hari ini.

“Pertama, politik demokratis belum kuat, politik masih jual beli, gaji Anggota DPR mahal banget, Rp 230 juta itu pun yang rutin sebulan, yang tidak rutin lebih banyak lagi, kok tahu Pak Mahfud, tahu wong saya dulu Anggota DPR,” kata Mahfud dalam webinar yang digelar Kanwil DJP Sumbarja, Kemenkeu Sumbar, Selasa (26/08/2025).

Kemudian, indeks persepsi korupsi sangat rendah, ada di skor 37 dari 100. Lalu, orang miskin menurut BPS 8,57 % atau lebih dari 24 juta jiwa dengan garis kemiskinan Rp 19.350. Jika menggunakan data Wold Bank, orang miskin di Indonesia 60,30 % atau 172 jiwa lebih dengan garis kemiskinan $ 6,85, sekitar Rp.100.250.

Di sisi lain, indeks gini ratio tinggi mencapai 0,381, ketimpangan kepemilikan lahan dengan 1% penduduk menguasai 67 % lahan, sedangkan 99 % penduduk menguasai sisanya. Ada ketimpangan pengelolaan aset karena 10 % orang terkaya menguasai 73 % aset, yang berarti 90 % orang hanya menikmati 27 % aset.

Jika dipersempit, ada 1 % orang terkaya yang hari ini masih menguasai 50,3% asetm yang berarti 99 % rakyat menikmati hanya 49,7 % aset. Akibatnya, terjadi net outflow of national wealth, kekayaan yang dimiliki Indonesia mengalir ke luar negeri, tapi rakyat Indonesia malah tidak menikmati keuntungannya.

“Lalu, menurut Presiden Prabowo di negara kita banyak korupsi, Pak Prabowo loh yang bilang, nanti saya tunjukkan bukunya, banyak korupsi dan pelanggaran hukum, sehingga terjadi paradoks Indonesia, negaranya kaya, rakyatnya miskin, baju politiknya demokrasi tetapi jahitannya oligarki,” ujar Mahfud.

Meski begitu, Mahfud mengaku yakin, Indonesia Emas terwujud pada 2045 nanti, Indonesia benar-benar menjadi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur seperti yang dicita-citakan segenap pendiri bangsa. Kala itu, Mahfud menekankan, pendapatan per kapita kita sudah kurang lebih USD 23.900.

“Itu akan dicapai nanti di Indonesia Emas, sekarang kita baru 4.770 pendapatan per kapita, belum 5.000, tapi ini akan dicapai nanti dengan algoritma perkembangan pengelolaan ekonomi kita yang direncanakan dengan teknologi sehingga perkembangannya nanti tumbuh dengan rumus terukur, itu nanti akan terjadi,” kata Mahfud.

Kemudian, Mahfud menerangkan, partisipasi perguruan tinggi sudah mencapai 74 %. Sisanya, 26 % tidak perlu di perguruan tinggi karena dia cukup masuk di sekolah-sekolah vokasi, mengingat saat itu akan pula diperlukan tenaga-tenaga yang sifatnya praktis, sifatnya teknis, dan itu bisa didapat dari sekolah vokasi.

Selain itu, ia menekankan, tidak ada lagi kemiskinan ekstrem dan yang ada di Indonesia hanya kemiskinan relative. Jika ukuran Indonesia, garis kemiskinan merupakan mereka yang penghasilan di bawah Rp 19.585 atau tidak sampai Rp 20.000, sedangkan ukuran Bang Dunia USD 6,85 atau di bawah Rp 100.205 per hari.

“Dan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi ke-4 di dunia atau celakanya ke-5 di tahun 2045 itu. Siapa yang terbesar, satu RRT, kedua India, ketiga AS, keempat Indonesia atau Jepang, sehingga Indonesia kita ambisi ke-4 kalau tidak ke-5. Sekarang, kita sudah masuk G20, besok akan jadi G5 di tahun Indonesa Emas 2045,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.