Menyusui ASI Ternyata Bisa Jadi Solusi Keberlanjutan Lingkungan

(ilustrasi) Seorang ibu yang sedang menimbang anaknya dan dibantu petugas Posyandu.
(ilustrasi) Seorang ibu yang sedang menimbang anaknya dan dibantu petugas Posyandu.

Dokter spesialis anak RS UI, dr. Fatimah Sania mengatakan, langkah ibu menyusui buah hatinya dengan Air Susu Ibu (ASI) turut menjadi solusi menjaga keberlanjutan lingkungan. Apalagi, jika membandingkan menyusui dengan ASI dan susu formula.

Hal itu dikarenakan ASI diproduksi secara alami oleh tubuh ibu. Sementara, pembuatan susu formula melibatkan banyak proses tidak hanya saat pembuatan susunya, tapi juga sampai kepada proses pengemasan maupun transportasi produk susu.

“Menyusui salah satu solusi alami ramah lingkungan karena mengurangi ketergantungan terhadap susu formula dan juga kemasan plastik. Menyusui juga berhubungan dengan kesehatan planet yang lebih baik,” kata Sania, Senin (Senin (04/08/2025).

Sania mengutip jurnal terbitan PubMed Central ‘Life Cycle Assessment of Infant Feeding: Comparison of a Cow’s Milk-Based Formula and Breastfeeding in the UK. Ternyata, susu formula sebabkan dampak lingkungan 35-72 persen lebih tinggi dibanding menyusui ASI.

Salah satu dampak lingkungan yang timbul dari pemberian susu formula yang ditemukan oleh peneliti Elle Cecilie Andresen dan timnya itu adalah potensi pemanasan global. Angka yang ditemukan malah 38 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif.

Ditemukan pula pemberian susu formula berdampak tingginya keasaman tanah 53 persen dan pencemaran air 54 persen jika dibandingkan ASI secara langsung pada bayi. Karenanya, Sania menyarankan ibu yang baru melahirkan mengutamakan pemberian ASI eksklusif.

Sebab, lanjut Sania, tidak hanya manfaat kesehatan bagi tubuh tapi juga didapatkan manfaat bagi lingkungan. Pemberian ASI bisa menjadi langkah yang tidak hanya menguntungkan jangka pendek tapi juga jangka panjang bahkan untuk generasi-generasi di masa depan.

“Jadi kita harapkan semakin banyak orang yang tahu bahwa menyusui ASI memiliki dampak yang sangat baik terhadap lingkungan dan juga perubahan iklim,” ujar Sania.

Pemberian ASI eksklusif turut didukung pemerintah sebagai program, bahkan masuk dalam Pasal 42 UU 17/2023 tentang Kesehatan. Pasal itu menyatakan setiap bayi berhak memperoleh ASI eksklusif sejak dilahirkan sampai usia enam bulan, kecuali atas indikasi medis.

Untuk mendukung pemberian ASI, aturan itu turut menjelaskan peran masyarakat selama pemberian ASI berlangsung. Baik keluarga, pemerintah pusat, pemda, dan masyarakat wajib mendukung ibu dan bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. (Antara/WS05)

Temukan kami di Google News.