Data NFP AS Jauh di Bawah Ekspektasi Pasar, Rupiah Menguat

(ilustrasi) Seorang warga sedang menghitung uang rupiah.
(ilustrasi) Seorang warga sedang menghitung uang rupiah.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan nilai tukar (kurs) rupiah menguat seiring data pekerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) sangat melemah.

“Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang melemah cukup tajam setelah data pekerjaan AS NFP yang sangat lemah memicu peningkatan pada prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed (Federal Reserve),” kata Lukman, Senin (04/08/2025).

NFP AS sendiri tercatat mencapai 73 ribu lapangan kerja pada bulan Juli 2025, jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebesar 106 ribu. Adapun penambahan lapangan kerja untuk bulan Juni direvisi turun sebesar 133 ribu dari 147 ribu. Untuk tingkat pengangguran alami kenaikan tipis.

Dari 4,1 persen pada Juni, naik jadi 4,2 persen pada Juli. Jumlah pengangguran sedikit berubah di angka 7,2 juta pada bulan Juli, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja berada di angka 62,2 persen. Rasio lapangan kerja terhadap populasi stabil di angka 59,6 persen pada Juli.

Sedangkan, jumlah orang yang bukan angkatan kerja tapi saat ini inginkan pekerjaan sedikit berubah yaitu 6,2 juta. Terkait rata-rata pendapatan per jam untuk semua karyawan non-pertanian naik 0,3 persen jadi 36,44 per dolar AS pada bulan Juli dibandingkan dengan Juni.

Menurut Lukman, data NFP AS yang melemahkan kurs dolar AS dorong harapan pemangkasan suku bunga Fed dua kali pada tahun ini 100 persen dengan total 50 basis points (bps). Ekspektasi tiga kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps ikut naik dari 46,4 jadi 48,1 persen.

Potensi pemotongan tersebut diperkirakan terjadi pada September, Oktober, dan Desember. Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin pagi di Jakarta menguat sebesar 104 poin atau 0,63 persen menjadi Rp16.409 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.513 per dolar AS.

“Pelemahan besar pada data tenaga kerja ini besar kemungkinan karena kekhawatiran investor akan tarif Trump yang akan berdampak sangat negatif pada perekonomian AS,” ujar Lukman. (Antara/WS05)