Benarkah Tomat “Induk” dari Kentang?

Iluastrasi, Gambar: Canva Premium

Para ilmuwan dari Tiongkok, Kanada, dan Inggris berhasil menemukan fakta mengejutkan mengenai asal-usul kentang. Melalui sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell, mereka menemukan bahwa kentang, yang kini menjadi tanaman pokok ketiga terbesar di dunia, adalah hasil persilangan genetik purba antara tanaman tomat dan spesies liar sejenis kentang, yang terjadi sekitar 9 juta tahun yang lalu.

Penelitian yang dipimpin oleh Huang Sanwen dari Institut Genomik Pertanian di Shenzhen, Akademi Ilmu Pertanian China, ini mengungkap bahwa kentang modern memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan tomat daripada dengan spesies liar sejenis kentang yang tidak menghasilkan umbi, yang dikenal sebagai Etuberosum.

Untuk menguak misteri ini, tim menganalisis 101 genom dari kentang budi daya dan kerabat liarnya. Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa semua kentang yang diperiksa membawa kontribusi genetik yang seimbang dari Etuberosum dan tomat. Dari sini, para ilmuwan menyimpulkan bahwa kentang merupakan keturunan hibrida dari kedua tanaman tersebut.

Studi waktu divergensi menunjukkan bahwa Etuberosum dan tomat berpisah sekitar 14 juta tahun lalu. Sekitar 5 juta tahun kemudian, keduanya berhibridisasi, yang kemudian melahirkan tanaman kentang yang mampu membentuk umbi sekitar 9 juta tahun lalu.

“Tomat berperan sebagai induk maternal kentang, sedangkan Etuberosum menjadi induk paternal, ” Huang menjelaskan

Meskipun kedua induknya tidak menghasilkan umbi, kentang memiliki organ baru ini. Para peneliti menduga bahwa umbi terbentuk akibat penyusunan ulang genom setelah persilangan. Gen-gen dari kedua induk berekombinasi dan secara tidak sengaja menciptakan organ baru tersebut.

Tim Huang berhasil melacak asal-usul gen kunci pembentuk umbi. Gen SP6A, yang berfungsi sebagai “sakelar utama” untuk pembentukan umbi, berasal dari tomat. Sementara itu, gen IT1, yang mengontrol pertumbuhan batang bawah tanah, berasal dari Etuberosum. Ketiadaan salah satu dari gen ini akan membuat tanaman tidak mampu menghasilkan umbi.

Hibridisasi purba ini tidak hanya menciptakan umbi, tetapi juga memperkaya keragaman genetik kentang. Kombinasi genetik yang unik ini memungkinkan kentang beradaptasi dengan berbagai habitat, mulai dari padang rumput beriklim sedang hingga pegunungan alpen.

Keberadaan umbi memberikan keunggulan bertahan hidup yang besar bagi kentang. Organ ini menyimpan air dan pati, menjadikannya tahan terhadap kekeringan dan cuaca dingin. Umbi juga memungkinkan reproduksi tanpa biji, karena tanaman baru dapat tumbuh langsung dari mata tunas. Menurut Huang, evolusi umbi inilah yang memicu ledakan spesies baru dan berkontribusi pada keanekaragaman kentang yang kita lihat dan andalkan saat ini.

“Perkembangan umbi melalui evolusi memberi kentang keunggulan besar di lingkungan yang keras, memicu ledakan spesies baru dan berkontribusi pada keragaman yang kaya pada kentang yang kita lihat dan andalkan saat ini,” ungkap Huang.(Antara/Way)

Temukan kami di Google News.