Menculik dan Memulangkan Greta Thunberg, Ternyata Ini yang Ditakuti Israel

Aktivis muda asal Swedia, Greta Thunberg (paling kiri), bersama beberapa temannya di atas kapal kecil membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza, sebelum akhirnya disetop, diculik, dan dipulangkan oleh Israel, Selasa (03/06/2025).
Aktivis muda asal Swedia, Greta Thunberg (paling kiri), bersama beberapa temannya di atas kapal kecil membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza, sebelum akhirnya disetop, diculik, dan dipulangkan oleh Israel, Selasa (03/06/2025).

Intelektual, Hamid Basyaib, memberi perhatian atas pemandangan luar biasa yang datang dari seorang perempuan muda bernama Greta Thunberg. Greta, bersama beberapa kawan memakai kapal kecil mencoba menerobos blokade Gaza, satu titik paling panas di muka bumi saat ini.

 

Bacaan Lainnya

Dengan keberaniannya, Greta mencoba menerobos Gaza yang lebih dari setahun dikepung dan dijadikan penjara sempurna, bahkan jadi ladang pembantaian oleh Israel. Kedatangan Greta ternyata memaksa Israel bertindak, menculiknya sampai memulangkannya kembali ke Swedia.

 

Pertanyaannya, lanjut Hamid, apa yang membuat Israel yang begitu perkasa tapi begitu takut kepada perempuan muda ini. Apalagi, sudah jelas kalau Greta Thunberg tidak punya senjata, tidak punya drone, tapi sampai membuat Israel harus menculik, lalu memulangkannya.

 

“Jawabannya, saya kira adalah Greta Thunberg menyajikan suatu kekuatan simbolik yang luar biasa. Kalau dia dibiarkan, dia muncul, maka seluruh dunia pasti terinspirasi,” kata Hamid.

 

Jika dibiarkan, ia menilai, siapa saja orang dewasa yang masih memiliki rasa kemanusiaan pasti merasa, pasti tergerak dan malu. Terlebih, bagi warga dunia seperti masyarakat Indonesia yang mungkin punya kedekatan emosional lebih kuat terhadap rakyat Palestina, dibanding Greta.

 

Semua akan mulai berpikir kalau Greta, yang merupakan anak Swedia dan sebenarnya tidak memiliki urusan langsung, rela mempertaruhkan segalanya demi orang-orang Palestina yang teraniaya. Hal itu yang dirasa begitu ditakuti oleh Israel sampai harus melakukan tindakan.

 

“Soal kekuatan real tidak ada sama sekali, tapi kalau Greta bisa nerobos blockade itu, lalu dari sana bikin macam-macam imbauan atau pidato ini akan bergema ke seluruh dunia dan menjadi inspirasi bagi siapa pun yang punya rasa kemanusiaan. Itu sebabnya, Israel dengan harga berapa pun dengan kecaman dunia seperti apa pun dia bungkam itu Si Greta, dipulangi,” ujar Hamid.

 

Hamid merasa, Greta Thunberg layak dipertimbangkan untuk mendapat Nobel Perdamaian atas sikapnya dan langkah-langkah yang sangat mengesankan, bukan hanya di Gaza. Sebab, sejak 7 tahun lalu dia sudah tampil mengesankan, yaitu ketika berteriak tentang Climate Change.

 

“Saya kira Greta Thunberg juga layak dipertimbangkan untuk mendapat Nobel Perdamaian karena yang dilakukan sangat menginspirasi dan dia yang penting lagi juga adalah berjuang, berteriak, berdemonstrasi dengan mempertaruhkan begitu banyak dari hidupnya untuk apa, untuk kemanusiaan semata. Saya kira panitia Nobel layak mempertimbangkan,” kata Hamid.

 

Hamid berpendapat, sikap Pemerintah Indonesia yang baru-baru ini dikumandangkan Presiden Prabowo sudah tepat. Dengan syarat tegas, Indonesia siap membangun hubungan yang lebih baik dengan Israel asal perlakuan terhadap Palestina bisa berubah, membaik dan sebagainya.

 

Ia merasa, Presiden Prabowo sudah bersikap proporsional, memberikan syarat itu karena dia berpegang konstitusi dan semangat non-blok yang dipegang sudah benar. Artinya, syarat itu syarat yang memang tidak bisa ditawar, sembari terus berharap konflik itu segera berakhir.

 

“Kita hanya bisa berharap apa pun alasannya, entah alasan politik, apa pun, sebetulnya sudah tidak penting lagi kalau kita lihat bagaimana derita orang-orang Palestina, terutama di Gaza, dan kita yang masih punya hati nurani saya jamin tidak akan sanggup melihat apa yang terjadi,” ujar Hamid. (*)