Presiden Prabowo Dirasa tidak Perlu Malu Koreksi Janji-Janji yang Gagal Dipenuhi

Capres, Prabowo Subianto dan Cawapres, Gibran Rakabuming Raka saat memberikan pesan penutup dalam debat kelima Debat Capres-Cawapres yang digelar KPU, Selasa (04/02/2025).
Capres, Prabowo Subianto dan Cawapres, Gibran Rakabuming Raka saat memberikan pesan penutup dalam debat kelima Debat Capres-Cawapres yang digelar KPU, Selasa (04/02/2025).

Deputi II Kepala Staf Presiden (KSP) era Presiden Jokowi, Yanuar Nugroho mengatakan, dalam semester ini atau triwulan ketiga nanti sudah ada perombakan dalam kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo. Hal itu dikarenakan banyak target-target pemerintahan yang tidak tercapai.

Sebab, ia menerangkan, sebuah pemerintahan populis akan mencoba sederhanakan persoalan-persoalan kompleks ke agenda-agenda yang simplistis. Tapi, ketika realitas menghantam terjadi kognitif disonansi, tidak tersambung antara apa yang diyakininya dengan kenyataan di lapangan.

“Karena dia mestinya mengerti. Contoh, dari 3 juta anak, 3 juta siswa, saya anggap saja data Pemerintah benar, kalau lihat data NGO lebih kecil dari itu, MBG pada bulan Mei coba jelaskan bagaimana mencapai 82,9 juta Desember nanti, tidak akan terjadi, kan tidak mungkin,” kata Yanuar dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu 11/06/2025).

Yanuar melihat, kondisi itu terjadi pula ke janji-janji kampanye lain seperti rencana penyerapan anggaran, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan lain-lain. Dalam kondisi itu, ia menilai, Presiden Prabowo seharusnya mulai sadar banyak menteri-menteri maupun janji-janji yang tidak benar.

“Dan menurut saya, tidak perlu malu, dan justru rakyat akan sangat menghargai ketika Pak Prabowo berdiri dan mengatakan, saudara-saudara sebangsa setanah air, setelah saya melakukan perhitungan ulang, saya kira target pertumbuhan kita terlalu tinggi, saya mau mengoreksi dan mari kita bersama sebagai bangsa bekerja bersama,” ujar Yanuar.

Yanuar mengingatkan, Presiden Prabowo mampu memenangi kontestasi Pilpres 2024 dengan raihan kemenangan mencapai 58 persen suara. Artnya, dia mendapat mayoritas rakyat yang begitu besar, sehingga tidak perlu malu untuk mengoreksi janji-janji yang tidak tidak tercapai.

Selain MBG, pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen yang dijanjikan Presiden Prabowo saat kampanye merupakan janji lain yang sangat tidak realistis. Bahkan, Yanuar meyakini, sampai akhir tahun ini saja target 5 persen pertumbuhan ekonomi tidak akan mampu diraih Indonesia.

Apalagi, ia menyampaikan, International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan hanya mencapai 4,7. Selain itu, Kementerian Keuangan memprediksi 4,85, Bappenas masih optimis sekitar 5,3, sedangkan Bank Dunia sependapat dengan IMF yaitu hanya sampai 4,7.

“Saya kira Pak Prabowo dengan kemenangan kemarin 58 persen, dia itu dapat dukungan rakyat, mestinya, jadi instead of ngeyel, keras kepala, kita harus tumbuh 8 persen, trust me kita tidak akan capai 5 persen akhir tahun ini,” kata Yanuar yang merupakan Asisten Ahli Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) era Presiden SBY.

Yanuar menilai, untuk memahami itu sebenarnya tidak sulit. Sebab, Gross Domestic Product (GDP) sebenarnya hanya dipengaruhi lima faktor mulai dari konsumsi masyarakat, ditambah belanja pemerintah, ditambah investasi, ekspor dimasukkan ke nilai dan dikurangi impor.

Itu berarti, Yanuar menegaskan, empat faktor pertama ini memang harus naik. Sementara, apa yang terjadi hari ini masyarakat ragu mengeluarkan uang, pemerintah memutuskan memotong anggaran, investor-investor takut investasi karena preman, dan ekspor rendah nilai tambahnya.

“Sementara, impor malah naik, sendok garpu untuk MBG saja impor, piringnya juga, 4.000 mobil dari SsangYong dimasukkan ke Indonesia untuk diubah jadi mobil Maung, kemarin beli alutvista berapa, ini seperti ini terus kita yakin mau 5 persen, tidak saya tidak yakin,” ujar Yanuar. (*)

Temukan kami di Google News.