‘Dunia Sibuk Kembangkan AI, Pejabat-Pejabat Kita Malah Belum Pernah Bicara’

Intelektual, Hamid Basyaib mengatakan, hari ini negara-negara dunia sedang terus membicarakan dan mengembangkan Artificial Intelligence (AI). Amerika Serikat dan Cina jelas sudah mengambil perannya sebagai pemain utama, lewat Open AI dan DeepSeek, seolah merepresentasikan kekuatan keduanya.

Mengaitkan isu itu terhadap kepentingan kita sebagai bangsa dan negara, Hamid mempertanyakan posisi Indonesia menghadapi perkembangan semacam ini. Sebab, ia melihat, sejauh ini pejabat-pejabat negara kita yang tentu saja paling berwenang malah hampir tidak pernah bicara apa-apa tentang serba-serbi AI.

“Misalnya, para pejabat Komdigi, yang paling relevan lah ya, atau dari sudut science, para pejabat BRIN misalnya, atau para pejabat Kementerian Riset dan Teknologi (hari ini Kementerian Dikti Saintek), hampir tidak pernah bicara apapun mengenai perkembangan yang oleh seluruh dunia sedang dibahas ini,” kata Hamid dalam program Perspektif di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (27/02/2025).

Ia menjelaskan, AI dalam ekspresi berupa Language Large Model (LLM) yang produknya antara lain berupa Chat GPT, baru dua tahunan saja perkembangannya sudah begitu cepat. Sederhananya, AI jadi mesin yang bisa berpikir sendiri atau berperasaan, mampu menyusun artikel, puisi, cerita fiksi, novel dan sebagainya.

Itu semua merupakan hal-hal yang semula diragukan dan ternyata keraguan itu terpatahkan karena benda itu benar-benar mampu. AI benar-benar bisa berpikir sendiri, walaupun cara kerjanya menghimpun begitu banyak ekspresi linguis umat manusia dalam semua bahasa, yang parameternya mungkin sudah triliunan.

“Dari semula pada November 2022 itu dia paling seratusan juta parameternya, dalam waktu singkat jadi miliaran, dalam waktu singkat meningkat lagi proliferasinya eksponensial. Jadi, sekarang saya sudah tidak mengikuti, tidak tahu sudah berapa ratus miliar, mungkin sampai triliun ekspresi bahasa, dalam semua bahasa praktis di dunia ini yang bisa dirangkum di situ, dan bisa kita manfaatkan,” ujar Hamid.

Dari segi bisnis, Hamid menuturkan, investor berlomba mengguyur uang kepada Open AI yang dibangun Sam Altman. Tapi, baru-baru ini keperkasaan Open AI seperti diinterupsi atau didisrupsi teknologi serupa dari Cina yaitu DeepSeek, yang dibangun seorang anak muda belum 40 tahun bernama Liang Wenfeng.

Bahkan, DeepSeek dibuat dengan biaya yang jauh lebih murah sekitar USD 6 juta, jauh dari Open AI yang menghabiskan ratusan juta dolar. Ajaibnya, Hamid menekankan, DeepSeek yang dibangun dengan biaya jauh lebih murah memiliki kemampuan komputansi yang dikatakan 50 kali lipat lebih efisien dari Open AI.

“Jadi, dia kalau kita tanya sesuatu dia akan jawab yang paling relevan saja dengan kebutuhan kita. Dengan cara itu, maka komputasinya tidak perlu ngoyo, begitu kira-kira bahasa gampangnya, karena dia langsung pin point, langsung mengarah pada jawaban, langsung dari persis apa yang kita tanya,” kata Hamid.

Hamid berpendapat, Indonesia harus mencermati perkembangan yang luar biasa ini, mengikuti ini dari dekat, step by step, termasuk sejarah awal yang sebenarnya sudah dimulai sejak 1950an. Hari ini, ia menekankan, kita baru masuk tahapan AI sebelum nantinya masuk Artificial General Intelligence (AGI).

Pada saat itu, ia menerangkan, hampir semua penduduk bumi ini menikmati atau mempunyai kemampuan untuk memiliki teknologi semacam itu. Sehingga, pada titik itu kecerdasan manusia biasa tentu sudah jauh terlampaui, membuatnya off solid, atau dalam bahasa penulis Harari manusia itu menjadi useless society.

“Kata dia untuk pertama kalinya manusia membuat teknologi yang tidak mampu dikontrolnya. Jadi, ini uncontrollable berita buruknya, saya serahkan kepada Anda bagaimana isu ini harus ditanggapi oleh Anda sendiri sebagai warga negara, oleh pemerintah kita sebagai pejabat yang berwenang mengelola negara ini karena pasti dampaknya kena pada negara kita sebagai negara, bukan sebagai individu,” ujar Hamid. (*)