Wapres Usul Coding Masuk Kurikulum, Komika Ingatkan Masalah Guru dan Fasilitas

Usulan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, soal Coding masuk kurikulum SD dan SMP memicu pro-kontra. Komika yang juga seorang guru, Falah Akbar mengingatkan, sampai saat ini masih ada masalah-masalah dasar seperti terkait tenaga pendidik maupun fasilitas yang belum memadai untuk diselesaikan.

Apalagi, ia menekankan, untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran seperti Coding memang dibutuhkan tenaga pendidik yang tentunya memiliki pemahaman luas tentang itu. Sehingga, mereka yang diminta mengajarkan kepada anak-anak nanti tidak sembarang orang yang memiliki pemahaman sekadarnya.

“Kalau siap sebagian siap, secara jumlah cukup kalau satu sekolah itu diadakan untuk Coding, tapi tetap kalau Coding untuk mata pelajaran atau ekstra kulikuler, gurunya juga harus bisa yang memang layak, bukan bikin Coding asal-asal terus langsung mengajar,” kata Falah saat menjadi narasumber dalam program Sajian Tentang (Sate) Demokrasi di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (25/12/2024).

Selain itu, ia menyampaikan, bagaimanapun Coding yang membutuhkan logika tinggi pengajarannya perlu dilakukan guru-guru yang eksak seperti IT, matematika, fisika atau kimia. Sebab, Falah merasa, sampai saat ini beberapa tenaga pendidik untuk computer saja masih tidak sedikit yang belum betul-betul menguasai.

Namun, Falah mengakui, Coding memang penting karena melihat masa depan maupun lapangan kerja pasti kita semakin membutuhkan Artificial Intelligence (AI). Sayangnya, ia mengingatkan, untuk orang Indonesia secara umum tampaknya masih lumayan jauh karena komputerasi yang belum merata.

Terlebih, ia menerangkan, dasar dari Coding merupakan bidang-bidang logika atau matematika yang sebenarnya kita masih belum cukup memberikan fokus. Menurut Falah, jika anak-anak langsung diminta mempelajari Coding akan kesulitan karena belum terbangun logika atau matematika yang memadai.

“Kayaknya, yang saya lihat untuk kemampuan matematika semakin ke sini kayaknya semakin parah, anak SMA tidak bisa bagi-bagian, kali-kalian, dan itu nyata. Jadi harus numerasinya dulu, khususnya kalau untuk ke Coding, jadi basic-basic matematika karena bagaimanapun logicnya, basicnya, di matematika, kalau misalkan di bawah banget ya kita susah mengejarnya,” ujar guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) itu.

Senada, komika lain yang pernah menjadi guru, Yudha Brajamusti merasa, untuk masa depan sudah pasti semua terkomputerisasi dan membutuhkan pelajaran-pelajaran terkait AI seperti Coding. Artinya, bukan AI yang akan menguasai dunia, tapi orang yang menguasai AI itulah yang nantinya akan menguasai dunia.

Masalahnya, ia menekankan, hari ini kehadiran Chat GPT saja baru dapat dimanfaatkan anak-anak kita sebagai sarana hiburan, bukan dioptimalkan dalam konteks AI. Karenanya, Yudha menyarankan, dunia pendidikan kita dapat memberikan fokus kepada SDM-nya terlebih dulu sebelum ke kurikulum Coding.

“Kalau saya SDM-nya siap dulu, terus fasilitasnya juga, kan itu tidak murah, ya kan sekalipun itu sudah jadi kebijakan pemerintah kalau di bawah tidak siap mau ngapain, tidak bisa dipaksa,” kata Yudha.

Belum lagi, Yudha menambahkan, penelitian terbaru menyebutkan kalau IQ rata-rata orang Indonesia hanya sampai 78. Karenanya, ia berharap, pemangku-pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan bisa duduk bersama terlebih dulu untuk memikirkan apa saja yang dibutuhkan anak-anak kita ke depan.

“Sistem harus diperbaiki, semuanya, kayaknya kita harus duduk bareng semua stakeholder pendidikan, kita harus duduk bareng, kita harus pikirkan, karena ini kan masa depan bangsa, generasi-generasi sekarang yang sedang sekolah yang akan memimpin 10, 20, 30 tahun yang akan datang,” ujar Yudha. (*)

Temukan kami di Google News.