Ray Rangkuti: Kalah di Jakarta, KIM Juara Tanpa Piala di Pilkada 2024

Pengamat politik, Ray Rangkuti, mengamati kemenangan Koalisi Indonesia Maju (KIM), koalisi multi-partai, di Pilkada 2024. Ia menyoroti, kemenangan KIM yang berisikan begitu banyak partai, ditambah Presiden dan mantan Presiden melawan satu partai, PDIP, yang belum mampu memenangkan Jakarta.

“Bahwa calon yang didukung KIM menang di mana-mana iya, tapi istilah saya kemenangan tanpa mahkota. Kenapa saya bilang karena Jakarta hilang kan,” kata Ray dalam acara Sate Demokrasi di kanal YouTube Mahfud MD Official, (4/12/2024).

Rekapitulasi KPU Jakarta menunjukkan, paslon yang diusung PDIP, Pramono Anung dan Rano Karno, menempati posisi pertama dengan total raihan 2.183.239 suara. Disusul paslon KIM, Ridwan Kamil-Suswono, yang mendapat 1.718.160 suara dan paslon independen Dharma-Kun dengan 459.230 suara.

“Ibarat juara, juara tanpa piala karena pialanya ada di Jakarta,” ujar Direktur Lingkar Madani (Lima) itu.

Ia melihat, dominasi kekuatan partai-partai di KIM malah membuat terkonsolidasinya kekuatan oposisi karena semua yang tidak searah akan bermuara di PDIP. Itu dapat begitu mudah dilihat di Jakarta dan daerah-daerah lain yang ternyata tetap dimenangkan oleh PDIP sekalipun melawan begitu banyak partai.

Bagi Ray, dibandingkan PDIP, sebenarnya Partai Golkar dan PKS merupakan partai yang sangat banyak menerima kekalahan di Pilkada 2024. Justru, PDIP, sekalipun diserang bansos dan harus melawan orang-orang yang didukung Presiden dan mantan Presiden mampu menerima limpahan simpati di Jakarta.

“Sebaliknya, perlawanan, tapi kan memang tidak semua masyarakat kita seperti di Jakarta, yang lain itu tadi, kemiskinan dipelihara karena itu aset politik, setahun sebelum pilkada gelontorin bansos,” kata Ray.

Namun, Ray menekankan, strategi seperti itu tidak berlaku di Jakarta. Bahkan, di daerah-daerah lain seperti Depok, untuk pertama kali terjadi semacam perlawanan terhadap dominasi PKS. Menurut Ray, itu semua cukup menunjukkan ada gejala positif di daerah-daerah yang akses pendidikannya bagus.

Ray turut menyoroti begitu kecilnya pengaruh mantan Presiden, Joko Widodo, yang sudah rela turun gunung ikut kampanye-kampanye paslon yang diusung KIM. Bahkan, selain di Jakarta yang jelas tidak ada, di Jawa Tengah sekalipun paslon yang didukung hanya mendapatkan 58-59 persen suara.

“Artinya, tidak tambah pengaruh Pak Jokowi karena di Pilpres cuma 58 persen. Artinya, basis pemilihnya Pak Prabowo itulah yang sekarang mendukung Lutfi. Jadi, keterlibatan Pak Jokowi yang terlalu dalam itu pada kenyataannya tidak menambah suara karena kenaikannya cuma 1 atau 2 persen,” ujar Ray.

Pakar hukum tata negara, Feri Amsari menambahkan, begitu banyaknya ‘cawe-cawe’ yang diperlihatkan Presiden Prabowo dan mantan presiden Jokowi tidak menghentikan konsolidasi publik yang mulai kritis. Bahkan, ia meyakini, kekalahan lebih banyak lagi didapat jika tidak ada peran Partai Cokelat atau Parcok.

Ia merasa, peran Parcok di Pilkada 2024 begitu besar. Sebab, Feri mendapat informasi kalau di beberapa provinsi itu banyak kepala desa yang tiba-tiba dipanggil atas kasus penggunaan Dana Desa. Tapi, sampai hari ini tidak ada satupun yang kasusnya naik dan diduga timbal balik atas pengaruh yang diberikan.

“Artinya, anda kalau patuh kepada kita ini tidak jalan, dan itu akan mempengaruhi kepala desa yang begitu dekat dengan publik pemilih. Pengaruh, merekalah yang kemudian digerakkan mempengaruhi. Di Sumatera Utara, kampungnya Bang Ray, itu ada kepling-kepling (kepala lingkungan) yang digerakkan, dan itu juga melibatkan aparat berbaju coklat,” kata Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) tersebut. (*)

Temukan kami di Google News.