Sosok Berintegritas, Ketua Mahkamah Agung Diharap tidak cuma Bersih untuk Diri Sendiri

Mahkamah Agung
Gedung Mahkamah Agung (MA).

Mantan Ketua Komisi Yudisial (KY), Suparman Marzuki, mengungkapkan salah satu sosok berintegritas yang diharapkan bisa membersihkan dunia kehakiman di Indonesia. Ternyata, sosok itu tidak lain Ketua Mahkamah Agung (MA), Prof Sunarto, yang baru dilantik Presiden Prabowo pada 22 Oktober 2024 lalu.

Suparman menuturkan, Sunarto sudah 2 kali mendaftar dan lolos sampai ke DPR, tapi tidak diterima hanya karena suaranya kurang keras. Padahal, ia menekankan, Sunarto memang berasal dari Sumenep dan memang bawaan personalnya lembut. Tapi, Suparman menegaskan, Sunarto sosok berintegritas.

“Dia orang Sumenep, volume suaranya lembut sekali, kadang-kadang tidak kedengeran, dan tidak ada intonasi tinggi, datar saja, lembut, tapi saya mengenal dia sebagai orang, hakim yang sepanjang karirnya tidak ada catatan buruk dan tidak ada angka angka kekayaan yang patut kita duga tidak benar,” kata Suparman dalam podcast Pojok Keramat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (08/11/2024).

Bahkan, Suparman mengungkapkan, dia pula yang 10 tahun lalu memaksa Sunarto mau menjadi hakim agung. Hal itu disampaikan Suparman ketika Sunarto merasa sudah cukup dan bersyukur karena menjadi hakim tinggi dirasa sudah capaian luar biasa, terutama bagi dirinya yang memang berasal dari kampung.

Mendengar itu, Suparman menyampaikan ke Sunarto agar tidak jadi ‘pribadi percuma’ atau orang baik yang tidak mau berbuat untuk bangsa. Ternyata, omongan itu betul-betul dipikirkan Sunarto karena tidak lama setelah perbincangan itu dia menghubungi Suparman, mengabarkan akan mendaftar hakim agung.

“Dia tidak punya rumah mewah, rumah sederhana di Malang sana, dia tinggal di Tangerang sama istrinya karena istrinya juga hakim, rumah dinas, tidak punya rumah pribadi, baru punya mobil Avanza setelah gajinya naik, itupun kredit, istrinya dan dia kalau ke pengadilan itu naik angkutan umum,” ujar Suparman.

Kala itu, Suparman turut menyampaikan kepada rekan-rekannya di Komisi 3 DPR RI soal ruginya bangsa ini jika sosok berintegritas seperti Sunarto itu tidak terpilih jadi hakim agung. Akhirnya, Sunarto terpilih menjadi hakim agung dan kini diberi amanah Presiden Prabowo untuk menjadi Ketua Mahkamah Agung.

Suparman mengingatkan, Ketua MA merupakan posisi strategis. Bagi Suparman, Sunarto memiliki modal integritas untuk melakukan tindakan pembersihan, penegasan dan membangun sistem di MA. Suparman berharap, sosok Ketua MA yang baru itu masih merupakan pribadi Prof Sunarto yang dia kenal dulu.

“Sekarang, dia jadi Ketua Mahkamah Agung, Saya sih berharap, dia hanya punya kesempatan sekitar lima tahun menjadi hakim agung, setelah itu dia pensiun, saya sih berharap dia tidak bersih untuk dirinya sendiri, waktunya sekarang,” kata Suparman yang merupakan pakar hukum tata negara UII Yogyakarta.

Cendekiawan, Hamid Basyaib menambahkan, kita tidak boleh cuma mengandalkan person-person tanpa membangun sistem. Sebab, ia menyampaikan, bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan tokoh-tokoh yang hebat. Salah satunya sosok Kapolri legendaris, Jenderal Hoegeng, yang dikenal sangat bagus tersebut.

Namun, ia menekankan, Hoegeng tetap belum mampu membangun Polri sebagai kesatuan dan sebagai sistem untuk menginternalisasi citra dirinya yang bagus itu. Contoh lain, Bung Hatta, yang bagi Hamid begitu paripurna kebaikannya. Tapi, lagi-lagi, Hamid menegaskan, kita tidak bisa mengandalkan person.

“Bung Hatta, buat saya orang itu baik sekali, pintar sekali, jujur sekali, ya tapi lagi-lagi, kan buat dirinya sendiri, apakah itu baik, tentu saja baik, orang baik buat dirinya ya baik, tapi kalau kita ngomong dalam konteks sistem, itu tidak bisa diandalkan, person-nya,” ujar penulis dan jurnalis senior tersebut. (*)

Temukan kami di Google News.