Tidak hanya kepada pemerintah eksekutif, Fatia juga menyebut institusi keamanan dan pertahanan nasional seperti TNI dan Polri juga banyak menerima bantuan dari asing untuk kepentingan organisasinya. Bahkan termasuk juga soal pengadaan senjata.
“Kemudian untuk Kepolisian misalkan, untuk TNI, mereka dapat senjata, equipment, mereka dapat bantuan, pendidikan, dan lain sebagainya dari mana, dari asing-asing juga,” ujarnya.
Sehingga dengan demikian, ia tidak setuju jika ada audit dana LSM yang sempat diusulkan oleh Luhut. Sekaligus ia menolak bahwa kerja-kerja LSM saat ini cenderung memenuhi kebutuhan bowheer atau donatur dari asing.
“Konteks soal foreign agent ataupun antek asing dan lain sebagainya, itu sangat kuno sebenarnya. Karena sebetulnya tidak ada yang bekerja untuk asing,” tandasnya.
Fatia menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh LSM seperti KontraS semata-mata bertujuan untuk kepentingan masyarakat, bukan sebagai agen asing untuk memenuhi kebutuhan donatur.
“Kita bekerja di LSM itu untuk masyarakat. Kita punya goals, kita punya tujuan, kita punya obyektif yang itu untuk masyarakat dan bukan untuk antek asing,” tegasnya.
Bahkan untuk Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ), Fatia menyatakan bahwa mereka akan mempertanggung jawabkan kerja-kerja yayasan atau lembaganya kepada masyarakat.
“Apa yang dilakukan oleh NGO itu tidak ada sama sekali konteksnya tanggung jawab terhadap antek asing. Tapi tanggung jawab kita kepada warga negara, kepada rakyat, menjadi benefierest kita. Dan juga selain itu tidak ada kaitannya bahwa kita mau menghancurkan negara, jadinya malah merusak keamanan negara,” pungkasnya.
