JAKARTA, Inisiatifnews.com – Imam masjid New York, Muhammad Syamsi Ali alias Imam Shamsi Ali. Ia menilai bahwa penggunaan diksi semacam itu menunjukkan betapa buruknya komunikasi publik Yaqut sebagai seorang menteri.
“Gus Menteri, semoga ini salah komunikasi atau salah memberi contoh saja. Pejabat pastinya tahu mengkomunikasikan masalah scr benar dan proporsional,” kata Imam Shamsi Ali, (23/2).
Ia pun mengingatkan agar seorang pejabat negara bisa lebih berhati-hati lagi dalam melakukan komunikasi publik, apalagi jika itu berkaitan dengan persoalan agama yang memiliki sisi sensitifitas tinggi.
“Apalagi kaitannya agama, tahu sendiri bisa sensitif. Suara azan dan sholawat itu indah dan penuh makna. Tidak pantas dicontohkan suara anjing,” tuturnya.
Pun secara pribadi, persoalan pengaturan toa masjid tidak perlu sampai dibuatkan regulasi khusus seperti saat ini. Akan tetapi bisa melalui pendekatan-pendekatan sosial agar semua lingkungan yang berbeda-beda kepercayaannya dalam beragama dapat saling memahami satu dengan yang lainnya.
“Sekali lagi, yang begini tidak penting-penting banget diatur. Masalah sensitifitas manusia bisa diselesaikan dengan pendidikan dan saling memahami,” ujar direktur Jamaica Muslim Center (JMC) itu.
Saya pernah tinggal tdk jauh dari sebuah gereja di NY. Nggak tersinggung dg bunyi bell. Sekitar gereja bahkan ada sekolah. Bunyi bell itu panjang di jam 10-an Pagi. Tidk ada yang marah. Itu Hidup manusia yang Sudah biasa.
Akan jadi sensitif kalah disensitifkan.. drama jadinya
— Imam Shamsi Ali (@ShamsiAli2) February 23, 2022
Jika persoalan seperti ini selalu diributkan dan menjadi regulasi baru untuk diterapkan secara masif, ia khawatir gesekan antar umat beragama bisa terjadi atasnama egoisitas masing-masing.
“Kalau gitu jangan masalahkan kalau masing-masing umat menolak umat lain beribadah, termasuk bangun rumah ibadah atasnama terganggu?. Bisa kok saling memahami,” pungkasnya.
