Mahfud MD Ingatkan Pentingnya Islam Wasathiyah di Negara Pancasila

Jangan Hanya Dibaca Orang NU

Rais Syuriah PCINU Australia dan Selandia Baru K.H Nadirsyah Hosen (Gus Nadirs) tak heran buku ini lahir dari Lirboyo. Sebab ada amanat sejarah Muktamar NU yang tetap menerima asaz tunggal Pancasila. Lirboyo pelopor yang menyebut Pancasila dan Islam tidak bertentangan.

Bacaan Lainnya

Buku ini, kata Gus Nadirs, sangatlah penting. Karena dapat mengisi ruang kosong dalam fikih siyasah dan tema-tema khilafah. Buku ini disebutnya bukan pesanan pemerintah, juga bukan dari orang liberal. Ini jelas murni dari Lirboyo. Rujukannya pun sangat komplit. Dari kitab klasik sampai modern, hingga mengutip ulama salafi bahkan Yusuf Al Qardawi. Buku ini cerdik mengutip rujukan yang dipakai kelompok mereka.

“Buku ini khas manhaj pesantren. Metodologi ini sangat kokoh dan solid. Ini luar biasa, mestinya dikaji dan dibaca juga oleh kelompok di luar pesantren dan kalangan NU. Harus dicetak, dimasukkan kurikilum baik pesantren maupun sekolah umum. Insyaallah bermanfaat,” tandasnya.

Serupa, Gus Mus pun sangat bergembira. Gus Mus mengusulkan tiga edisi buku ini dijadikan satu dan disebarluaskan tidak hanya untuk kalangan pesantren nahdliyin saja.

Sebagai catatan, Gus Mus menambahkan pemahaman jihad yang kurang dalam buku ini. Perlu ditambah pemahaman jihad melawan kebodohan. Sebab, sekarang ini, selain korupsi dan pandemi, yang paling harus dilakukan adalah jihad melawan kebodohan untuk menghilangkan kebodohan dan yang tak mau belajar yang tengah menyeruak sekarang ini.

Gus Mus berkata, banyak orang yang berhenti belajar dan ngaji, tetapi sok pintar. Maka cara melawannya adalah dengan buku. Apalagi saat ini banyak orang berbicara, tetapi tak sadar atas rekam jejaknya.

“Nggak ngerti tentang agama, bicara soal agama. Ini amat gawat. Padahal ini soal ruh. Bikin celaka banyak orang. Ini harus diluruskan, salah satunya dengan buku ini,” ujar Gus Mus

Ketua Umum Himpunan Alumni Ponpes Lirboyo K.H. A Kafabihi Mahrus menyatakan buku ini disusun oleh Lajnah Lembaga Bahtsul Masail Alumni Ponpes Lirboyo, Jawa Timur.

“Kami bangga dan bersyukur terbitnya fikih kebangsaan III ini. Agama dan pemerintahan harus beriringan. Posisi agama sebagai pondasi, ulama sebagai penjaga dari paham yang tidak baik. Pemerintah menjaga negara melanjutkan keberadaan NKRI. Kuseksesan sebuah bangsa tidak lepas dari para pendahulu, salah satunya ulama dan masayikh,” ujarnya.

Ponpes Lirboyo, kata Kiai Kafabihi, terpanggil untuk ikut mengurusi masalah kebangsaan yang kini mendapat ancaman.

“NKRI kesepakatan final, siapapun yang berani mengubahnya, akan berhadapan dengan Ponpes Lirboyo. Lewat buku ini, semoga dipelajari dengan serius di perguruan tinggi, juga oleh instansi pemerintah. Isinya adalah wawasan keislaman bernuansa kebangsaan dalam menangkal Islam garis keras yang semakin subur juga menolak paham komunisme yang tak kalah berbahaya,” tandasnya. (INI)

Temukan kami di Google News.