Mahfud MD Ingatkan Pentingnya Islam Wasathiyah di Negara Pancasila

Mendagri: Perang Narasi Jihad

Sementara itu, Mendagri Tito Karnavian, membeberkan perkembangan geopolitik dunia yang berubah sejak tahun 2.000-an.

Bacaan Lainnya

Peristiwa dan aksi terorisme mengatasnamakan agama mulai muncul sejak aksi 11 September 2001. Inilah yang mengubah geopolitik dunia. Amerika belum pernah diserang di jantungnya. Baru di luaran saja, di pinggir di Hawaii pada perang dunia kedua. Serangan 11 September menyentuh jantung ekonomi dan keamanan mereka. Amerika betul-betul terpukul.

Akhirnya peta pun berubah. Amerika membuat global war on terror. Indonesia pun beruntun dikejutkan peristiwa Bom Bali pada Oktober 2002 dengan korban 202 orang meninggal, 800 orang terluka yang kebanyakan WNA. Disusul berbagai peristiwa teror berikutnya.

Ternyata, lanjut Tito, ada perbedaan dalam akidah Islam. Hampir semua pelaku teror mengatakan sedang berjihad. Padahal, ini pemahaman yang keliru.

“Saya melihat ada satu set narasi yang sama dalam melakukan aksi kekerasan. Mereka banyak sekali menyitir dari satu sumber. Sumber-sumber dari Timur Tengah. Konsep jihad bagi mereka adalah jihad peperangan, qital, bahkan hukumnya wajib ain, bukan fardlu khifayah. Jihad ini bahkan seperti rukun Islam keenam. Bagi mereka, harus dilaksanakan. Pemahamam jihad bersungguh-sungguh untuk keluarga, tidak masuk bagi mereka,” tuturnya.

Karena wajib, kelompok pro kekerasan ini akhirnya mencari arena jihad. Karena jika tidak, mereka menganggap telah berdosa. Sayangnya, bagi mereka, Indonesia adalah medan perang.

Artinya, lanjut Tito, harus ada perang narasi. Mengubah dan meluruskan narasi jihad yang salah selama ini. Moderasi narasi atau counter narasi juga harus disertai ayat-ayat Al Quran dan hadis. Sebab, tambah Tito, narasi kelompok ini juga memakai dalil dan ayat Al Quran. Artinya, kalau diterima oleh yang pemahamannya kurang, pasti ditelan mentah-mentah.

“Buku Fikih Kebangsaan ini, ini sangat penting menjadi counter narasi untuk seluruh pihak. Buku ini, saya baca, saya lega. Ini yang ketiga dari Lirboyo. NU memang benteng NKRI, salah satu pendiri NKRI,” pujinya.

Soal perlakuan non muslim, kata Tito, negara Indonesia memang bhinneka. Tidak banyak negeri seperti Indonesia. Namun, berbagai perbedaan ini adalah potensi konflik dan perlu dimanage. Berbagai konflik berbau SARA pernah dialami Indonesia.

Menangani konflik ini tidak mudah. Oleh karenanya, narasi melalui buku Fikih Kebangsaan dari Lirboyo ini dapat menjadi pegangan dan pencerahan. Sebagai penyeimbang narasi kekerasan. Juga sebagai penyeimbang paham takviri, paham gampang mencap bidah yang kian merebak, berbahaya dan mengancam.

Terakhir, kata Tito, konteks jihad juga bisa diaplikasikan dalam pandemi Covid-19. Yakni dengan patuh dan disiplin pada protokol kesehatan seperti penggunaan masker, cuci tangan, dan jaga jarak.

“Pandemi perang juga. Bisa jadi menjalar ke krisis ekonomi dan keamanan. Peran umat Islam, peran tokoh, ulama panutan sangat penting untuk mengalahkan Covid-19,” pungkasnya.

Temukan kami di Google News.