Ketua MPR Yakin Ekonomi Pancasila Bisa Ambil Alih Ekonomi Dunia

Bamsoet
Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo.

Inisiatifnews.com Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Bambang Soesatyo mengatakan, bahwa sistem ekonomi Pancasila mempunyai peluang untuk mengambilalih sistem ekonomi dunia yang tengah terkoreksi karena pandemi COVID-19.

Politisi yang karib disapa Bamsoet itu menjelaskan, bahwa sistem ekonomi Pancasila merupakan sistem khas bangsa di luar sistem ekonomi yang berlaku di luar.

Bacaan Lainnya

“Virus (COVID-19) ini telah mengoreksi globalisasi beserta seluruh tatanan ekonomi dunia menuju tatanan ekonomi baru. Bila globalisasi runtuh, maka ekonomi lokal otomatis ambil haluan,” kata Bamsoet dalam webinar dan bedah buku “Ekonomi Pancasila dalam Pusaran Globalisasi”, Sabtu (20/6/2020).

“Inilah peluang bagi kita untuk mengambilalih haluan. Bicara ekonomi lokal, tentu tidak bisa lepas dari sistem ekonomi Pancasila. Inilah peluang ekonomi Pancasila ambil alih sistem ekonomi global,” imbuhnya.

Kendati demikian, ia meragukan sistem ekonomi Pancasila bisa mengatasi tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, seperti ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Politisi Partai Golkar itu menjelaskan, bahwa saat ini Indonesia tengah dihadapkan pada kenyataan bahwa harga produksi pertanian impor, utamanya komoditas pangan, lebuh murah dari harga produk dalam negeri. Hal itu yang menyebabkan ketergantungan terhadap pangan impor semakin besar.

“Ini kondisi yang mengkhawatirkan mengingat Indonesia punya potensi besar dan sudah terbukti bisa memenuhi kebutuhan pangan atau swasembada,” ujarnya.

Ketergantungan Indonesia terhadap produk impor, lanjut Bamsoet, terus memprihatinkan sejak 2010 di mana hingga 2013 setiap tahunnya Indonesia mengimpor separuh kebutuhan garam nasional atau sekitar 1,5 juta ton.

“Padahal, laut itu bagian terbesar Indonesia,” lanjutnya.

Impor komoditas pangan pun meluas termasuk kedelai, kacang tanah, bawang, daging, susu hingga buah dan sayur. Pada 2017-2018, Indonesia pun menjadi importir gula terbesar dunia, dengan hampir 4,5 juta ton.

“Konsumsi gula impor kita mengalahkan Tiongkok yang hanya impor 4,2 juta ton padahal penduduk Tiongkok itu satu miliar jiwa, tapi konsumsi gula impor kita mengalahkan Tiongkok,” pungkas Bamsoet. []