Inisiatifnews – Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Mohammad Mahfud MD menyampaikan kepada masyarakat luas, bahwa mereka tidak harus percaya dengan hasil input data di komputer KPU.
Hal ini juga disampaikan Mahfud sama halnya dengan jangan mudah mempercayai penuh data hasil quick count beberapa lembaga survei yang ada termasuk lembaga survei yang dilakukan internal para kontestan pemilu.
Karena baginya, data yang diinput oleh KPU ke situs mereka dengan hasil quick count bukanlah hasil akhir, melainkan data sementara yang bisa saja berubah.
“Kita tak harus percaya pada input-input yang masuk ke komputer KPU. Sama juga kita tak harus percaya pada hasil Quick Count atau hasil hitung internal kontestan. Itu hanya info pendahuluan,” kata Prof Mahfud MD, Jumat (19/4/2019).
Kemudian Mahfud menjelaskan bahwa hasil akhir adalah hasil rekapitulasi suara yang sebetulnya dilakukan secara manual oleh KPU sebagai penyelenggara pemilu. Dimana proses itu diperkirakan akan dilakukan pada pertengahan bulan Mei 2019.
Dan di sanalah sebetulnya real count dari perhitungan akhir dari proses pemilu dilakukan.
“Yang resmi nanti adalah hitungan manual, adu Plano C.1, sekitar tanggal 22 Mei 2019. Di sanalah keputusannya nanti,” jelasnya.
Sebelumnya, Mahfud MD juga sudah mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak mudah percaya dengan klaim-klaim hasil akhir sebelum keputusan hasil rekapitulasi suara oleh KPU selesai dilakukan.
Apalagi klaim-klaim kemenangan itu dititik beratkan pada hasil quick count lembaga survei, baik yang independen maupun yang diakomodir oleh kontestan pemilu sendiri. Dimana data mereka hanya membaca sebagian data masuk bukan keseluruhan dari proses pemungutan suara yang dilakukan baik dalam negeri maupun di luar negeri.
“Hasil Quick Count dari berbagai lembaga survai hasil harus dibuktikan pada perhitungan manual, hasil real count dari kontestan juga belum mencakup seluruh TPS dari 811.000 TPS di seluruh Indonesia,” terang Mahfud.
“Proses-proses untuk menjamin kebenaran resminya juga masih berlangsung dan masih bisa kita kawal dengan ketat,” tutupnya.
[NOE]
