Elektabilitas PDIP dan Gerindra Teratas, PolMark Sebut Prabowo, Sandi, Jokowi Penyebabnya

survei polmark
Data survei PolMark Indonesia tentang elektabilitas partai politik di Pemilu 2019. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews – Peneliti dari Political Marketing Indonesia (PolMark), Michael Febrian menyebutkan bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan pihaknya terakhir ini, PDI Perjuangan dan Gerindra menempati posisi teratas.

“Bahwa ada partai politik yang berpotensi sukses atau lolos threshold adalah PDIP dengan 28,6% dan Gerindra 14,1%. Dua partai ini menempati posisi tertinggi,” kata Michael dalam diskusi publik yang digelar di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (9/4/2019).

Bacaan Lainnya

Alasan yang cukup mendasar dari temuan data PolMark itu, Michael menyebutkan bahwa ada efek dari peserta Pilpres yang sukses mendongkraknya. Dimana untuk PDI Perjuangan ada Joko Widodo yang menjadi kader partai ikut menjadi peserta Pilpres 2019.

Kemudian untuk Gerindra, PolMark menyebutkan keberadaan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno juga berperan membesarkan posisi partai di kalangan masyarakat Indonesia.

“Gerindra unggul karena diuntungkan oleh 2 kader mereka yang maju di Pilpres, dan PDIP diuntungkan karena salah satu kadernya maju Pilpres,” terangnya.

Selain Gerindra dan PDI Perjuangan, ada 7 partai yang diprediksi akan berhasil masuk ke Senayan. Beberapa diantaranya adalah ;
– Partai Golkar : 13,3%
– PKB : 11,5%
– Partai Demokrat : 6,9%
– PAN : 5,9%
– Partai NasDem : 5,3%
– PKS : 4,6%
– PPP : 4,5%

Kemudian untuk partai yang diprediksi tidak beruntung lolos threshold antara lain ;
1. Partai Perindo : 2,0%
2. Partai Hanura : 1,1%
3. PSI : 0,6%
4. PBB : 0,5%
5. Partai Berkarya : 0,4%
6. PKPI : 0,2%
7. Partai Garuda : 0,1%

Sementara itu untuk detail surveinya, Michael menyebutkan bahwa data tersebut bisa dijadikan acuan namun tidak menjadi penilaian mutlak. Hal ini selain karena rentan waktu pengumpulan datanya yang terbilang terlalu panjang, Michael pun menyebutkan bahwa survei sejatinya adalah asumsi semata untuk menilai kecenderungan pilihan masyarakat.

“Survei itu asumsi, politik itu konklusi. Artinya kalau disurvei bulan Maret tidak bisa dijadikan patokan mutlak hasil akhirnua akan sama dengan April,” ujarnya.

Dijelaskan Michael, bahwa survei PolMark Indonesia menggunakan rentang waktu antara tanggal 7 Oktober 2018 sampai dengan tanggal 12 Februari 2019. Dengan rentang waktu yang panjang itu, PolMark mengklaim melakukan survei secara langsung dengan berbasis simulasi kertas suara itu di 73 daerah pemilihan (dapil).

Kemudian ia juga menyebutkan bahwa setidaknya ada ada 32.560 responden yang disurvei dengan asumsi Margin of Error (MoE) sebesar kurang lebih 4,8%.

[IBN]