Menko Muhadjir Ingin Entaskan Masalah Stunting

Menko PMK
Menko PMK Muhadjir Effendy tengah melakukan Rapat terbatas dengan Wapres K.H. Maruf Amin.

Inisiatifnews – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy ingin fokus menangani stunting (kekerdilan) pada anak. Muhadjir bahkan akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

“Sanitasi lingkungan ternyata menjadi faktor yang sangat penting dan determinan dalam masalah stunting ini, maka saya akan ada berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral karena berkaitan dengan ketersedian air bersih,” ujar Muhadjir, Senin (4/11/2019).

Bacaan Lainnya

Muhadjir mengatakan penanganan stunting nantinya dimpimpin langsung oleh Kementerian Kesehatan dengan melibatkan banyak pihak. Mereka antara lain, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sangat strategis.

“Akan ada koordinasi di level Kemenko PMK yaitu koordinasi di bawah Kemenko PMK,” tuturnya.

Wakil Presiden Maruf Amin sebelumnya ingin angka stunting ditekan dalam lima tahun ke depan. Prevalensi stunting masih 27,67 persen, atau hampir sepertiga balita mengalami stunting.

“Prevalensi stunting harus mencapai target di bawah 20 persen pada 2024,” tegas Maruf dalam rapat pleno Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, 1 November 2019.

Menurut dia, penanganan masalah stunting sudah cukup baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan penurunan jumlah stunting dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 27,67 persen pada 2019.

Angka stunting di Indonesia masih di bawah rata-rata WHO

Perlu diketahui, bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada 2017. Angkanya mencapai 36,4 persen. Namun, pada 2018, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angkanya terus menurun hingga 23,6 persen.

Dari data yang sama, diketahui pula stunting pada balita di Indonesia pun turun menjadi 30,8 persen. Adapun pada Riskesdas 2013, stunting balita mencapai 37,2 persen.

Perlu diketahui bahwa riskesdas memang dirilis setiap lima tahun sekali. Sedangkan stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang antara lain disebabkan gizi buruk.

Anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia. Atau dalam bahasa yang lebih umum adalah kuntet. Dari Riskesdas 2018 itu, sangat pendek mencapai 6,7 persen dan pendek 16,9 persen.

Penurunan angka stunting di Indonesia adalah kabar baik, tapi belum berarti sudah bisa membuat tenang. Maklum, bila merujuk pada standar WHO, batas maksimalnya adalah 20 persen atau seperlima dari jumlah total anak balita. []

Temukan kami di Google News.