Sugeng Rawuh di Tanah Jawa Yaa Ustad…

Ustad Abdul Somad [foto: Instagram @ustadzabdulsomad]

Inisiatifnews – Beberapa hari ini, timeline berbagai media sosial penuh dengan foto-foto Ustad Sejuta Viewers, Abdul Somad Batubara (UAS). Kali ini, yang berseliweran bukan ceramah-ceramahnya yang jenaka namun bernas dan penuh ilmu, melainkan perjalanannya bertemu dengan ulama-ulama khos Nahdlatul Ulama (NU) di Tanah Jawa.

Bagi kebanyakan Nahdliyin, safari UAS ini lumayan mengagetkan. Sebab warna ke-NU-an UAS ini memang samar-samar. Tidak salah orang menilai hal ini, sebab UAS, entah sengaja atau tidak, dibikin sedemikian rupa sebagai representasi ulama kelompok tertentu.

Bacaan Lainnya

Memudarnya darah hijau UAS tak jauh-jauh dari urusan politik praktis. Untuk elektabilitas, ia yang memiliki jutaan viewers dan umat ini ditarik-tarik, diklaim menjadi golongan ini. Artinya, kalau sudah ini, UAS bukan golongan itu. Sesempit itulah cara berpikir kebanyakan kita sekarang.

Akibatnya, UAS disalahpahami. Sampai-sampai diragukan ke-NKRI-annya dan dianggap pro khilafah. Soal ini tentu jangan percaya begitu saja. UAS jelas Merah Putih.

Singkatnya UAS dianggap bukan ‘hijau’, UAS lebih cenderung ‘putih’, maka mengagetkanlah saat ia sowan ke Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Kiai Maimun Zubair dan ziarah ke maqbaroh pendiri Jam’iyah terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan sowan ke Ponpes Denanyar di Jombang.

Kalau harimau kumpul-kumpul bareng kucing, ia tak otomatis menjadi kucing, ia tetaplah harimau. Seperti juga UAS, bagi yang tahu sejarah, tanah kelahiran UAS, tanah Melayu dekat-dekat Riau dan Sumatera Utara sana, memang tempat bersemainya ajaran-ajaran Thoriqoh, ajaran yang kental dan dekat dengan khazanah NU. Bagi yang sering mendengar ceramahnya, tak tega rasanya menyebut UAS bagian dari kelompok radikalis fundamentalis bin ekstrimis serta istilah-istilah serem serupa lainnya yang maknanya juga sudah disalahpahami.

UAS ini sangat NU. Di Riau sana, UAS pernah menjabat di Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Riau. Rasanya bolehlah kita katakan, nahdliyin yang sempat ‘travelling’ ini sudah mudik ke kampung halamannya.

Karenanya, salah juga kalau menyebut UAS “menjadi” NU lewat perjalanannya sowan ke Kiai-kiai di Tanah Jawa. Ia hanya kembali ke khittah dari “pengembaraannya”. Ia tengah meneguhkan kembali ke-NU-annya.

Kalau sudah ‘kembali’, tugas kita menyambut dengan tangan terbuka. Sugeng rawuh di Tanah Jawa, yaa Ustad. Bersambung

Temukan kami di Google News.