Hari Santri Nasional, Khofifah Fasilitasi Pendidikan Santri hingga ke Al-Azhar Mesir

Gubernur Jawa Timur
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan keterangan kepada wartawan usai menghadap Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (18/6/2019). Pertemuan tersebut diantaranya membahas permintaan Khofifah untuk pembangunan transportasi massal seperti Mass Rapid Transit ( MRT) hingga Light Rail Transit ( LRT) yang akan menghubungkan sejumlah wilayah di Jawa Timur.

Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa komit mendukung penguatan pendidikan pesantren untuk menyiapkan generasi santri unggul yang dapat menyongsong Indonesia Emas 2045.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim bakal terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan santri melalui berbagai program, salah satunya Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD). Melalui LPPD, banyak santri telah difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir, hingga jenjang magister.

Bacaan Lainnya

“Kita harap saat pulang tak hanya membawa gelar sarjana, tetapi mereka pulang sebagai ulama Al-Azhar,” kata Khofifah saat menghadiri peringatan Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur.

Selain fasilitasi pendidikan, Pemprov Jatim juga memperkuat dukungan terhadap pesantren melalui kebijakan daerah. Jatim, tambahnya, memiliki Peraturan Daerah tentang Penguatan Pesantren serta Peraturan Gubernur tentang Penguatan dan Fasilitasi Pesantren.

“Pemprov Jatim selain memiliki perda penguatan pesantren, Insya Allah sampai hari ini satu-satunya provinsi yang mempunyai peraturan gubernur tentang penguatan dan fasilitasi pesantren,” ungkap mantan Menteri Sosial itu.

Dia menilai, penguatan kebijakan tersebut perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas kelembagaan dan perluasan jejaring pesantren. Khofifah menyambut hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Penguatan peran pesantren Insya Allah tidak hanya meningkatkan kapasitas dan kualitasnya, tetapi jejaringnya juga,” tuturnya.

Dia menegaskan, santri memiliki peran strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu, pendidikan pesantren perlu terus diarahkan untuk melahirkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kepedulian sosial.

Untuk menuju Indonesia Emas 2045, kata dia, semua pihak harus menyiapkan generasi santri yang unggul, berdaya saing global, dan berkarakter mulia. Kedalaman ilmu agama harus beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepedulian terhadap sesama.

Ia berharap, pesantren terus melahirkan sumber daya manusia berkualitas yang mampu berkontribusi di berbagai bidang.

“Dari pesantren lahir ulama yang mencerahkan, pendidik yang menginspirasi, ilmuwan yang memiliki inovasi tinggi, wirausahawan yang membuka lapangan kerja, dan pemimpin yang amanah,” harapnya. RLS

Temukan kami di Google News.